Minggu, Maret 1, 2026

100 Tahun Indonesia Merdeka, Masuk Lima Besar Ekonomi Terkuat Dunia

Must Read

Moneter.co.id – Indonesia
berpotensi memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian dunia ke
depannya, yang salah satunya ditopang melalui kinerja gemilang dari industri
nasional. Peluang besar tersebut, juga didukung dengan adanya masa emas, yaitu
bonus demografi atau peningkatan jumlah penduduk usia produktif pada tahun
2020-2030.

“Sehingga
nanti pada 100 tahun Indonesia merdeka tahun 2045, Insya Allah Indonesia akan
masuk lima negara ekonomi terbesar di dunia,” kata Menteri Perindustrian
Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin (9/4).

Berdasarkan
hasil riset PricewaterhouseCoopers (PwC), salah satu penyedia jasa auditor
besar di dunia, posisi perekonomian Indonesia di peringkat ke-5 dunia
diprediksi lebih cepat pada tahun 2030 dengan estimasi nilai Produk Domestk
Bruto (PDB) USD5,424 miliar.

Sementara tahun
2050, peringkat ekonomi Indonesia bakal naik menjadi ke-4 dunia dengan
perkiraan nilai PDB USD10,502 miliar yang dihitung melalui metode Purchasing
Power Parity (PPP). 

Menurut riset PwC ini,
Indonesia dinilai sebagai big emerging market karena merupakan
negara dengan perekonomian terkuat di Asia Tenggara. “Untuk mencapai sasaran
tersebut, tentunya perlu perjuangan dan kerja keras. Sehingga, optimisme harus
didorong oleh seluruh lapisan masyarakat Indonesia,” tegas Menperin.

Oleh karenanya,
melalui peta jalan Making Indonesia 4.0, Indonesia telah memiliki strategi dan
arah yang jelas dalam upaya meningkatkan daya saing industri manufaktur
nasional di tengah memasuki era digital.

“Guna
menggenjot daya saing industri, harus didukung dengan pendidikan, terutama
kompetensi tenaga kerjanya. Kemudian, diperlukan kegiatan untuk menciptakan
inovasi dan menerapkan teknologi terkini, di mana dua hal tersebut sangat
ditopang oleh pendidikan dan dana untuk melaksanakan itu,” paparnya.

Airlangga
mengungkapkan, saat memasuki momentum bonus demografi, beberapa negara
mengalami pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Misalnya, Jepang yang mampu
tumbuh 5,5%, China 9,2%, Singapura 7,3%, dan Thailand 4,8%. “Untuk itu, kita
harus manfaatkan peluang emas tersebut. Kita bisa petik hasilnya pada tahun
2030,” tuturnya.

Menperin meyakini, implementasi Industri
4.0 dapat mengakselerasi target visi Indonesia emas 2045.
“Saat ini, Indonesia telah masuk one trillion dollar club,” ujarnya.

Perbaikan
ekonomi di Tanah Air, kata Airlangga, juga terlihat dari empat aspek selama 15
tahun terakhir. Pertama, populasi
tenaga kerja meningkat lebih dari 30 juta, yang ditopang dengan naiknya gaji sebesar
dua kali lipat. Kedua, pertumbuhan
konsumsi meningkat pula delapan kali lipat, di mana saat ini menyumbangkan 55%
dari PDB.

Ketiga, aspek investasi kita pun luar
biasa peningkatannya, naik 13 kali lipat, yang juga mengalami peningkatan
terhadap penyumbangan ke PDB dari 22% menjadi 34%. Terakhir, kita lihat dari
kapitalisasi pasar bursa meningkat 15 kali lipat, kini kapitalisasinya mencapai
USD500 miliar,” jelasnya.

Menperin juga optimistis, implementasi Making
Indonesia 4.0 yang sukses akan mampu mendorong pertumbuhan PDB riil sebesar 1-2%
per tahun, sehingga pertumbuhan PDB per tahun akan naik dari 5% menjadi 6-7%
pada periode tahun 2018-2030. Dari capaian tersebut, industri manufaktur akan
berkontribusi sebesar 21-26% terhadap PDB pada tahun 2030.

Selain kenaikan produktivitas, Making Indonesia
4.0 menjanjikan pembukaan lapangan pekerjaan sebanyak 7-19 juta orang, baik di
sektor manufaktur maupun non-manufaktur pada tahun 2030 sebagai akibat dari
permintaan ekspor yang lebih besar.

“Dalam mencapai target tersebut, industri nasional perlu
banyak pembenahan terutama dalam aspek penguasaan teknologi yang menjadi kunci
penentu daya saingnya,” tegas Menperin.

Adapun lima teknologi utama yang menopang implementasi
Industri 4.0, yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human–Machine
Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing.

Untuk penerapan awal Industri 4.0, Indonesia akan
berfokus pada lima sektor manufaktur, yaitu industri makanan dan minuman,
industri tekstil dan pakaian, industri otomotif, industri kimia, serta industri
elektonik.

“Sektor ini dipilih setelah melalui evaluasi
dampak ekonomi dan kriteria kelayakan implementasi yang mencakup ukuran PDB,
perda­gangan, potensi dampak terhadap industri lain, besaran investasi, dan
kecepatan penetrasi pasar,” terangnya.

 

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sambut Ramadan 2026, Grand Travello Hotel Bekasi Hadirkan Showcase Kuliner dan Paket Spesial

Grand Travello Hotel menggelar Ramadan Showcase 2026 sebagai bentuk komitmen dalam menghadirkan pengalaman berbuka puasa yang berkualitas bagi masyarakat...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img