Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto

Menperin: Implementasi Industri 4.0 Tak Meninggalkan Sektor Generasi Pertama Hingga Ketiga

10 Februari 2019

Moneter.id - Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan era digitalisasi atau industri 4.0 merupakan transformasi yang harus dijalani dan tidak bisa dihindari. Dalam penerapan revolusi industri keempat ini, Indonesia tidak akan meninggalkan atau menggantikan sektor industri yang saat ini masih menggunakan teknologi di era industri generasi pertama hingga ketiga.

“Meski saat ini pemerintah mendorong revolusi industri keempat, tetapi saya tegaskan bahwa sektor yang masih di industri pertama juga masih berjalan, termasuk pula yang di generasi kedua dan ketiga. Semuanya saling melengkapi dan berjalan seiringan,” ucapnya di Jakarta, Minggu (10/2).

Menperin menuturkan, industri generasi pertama yang masih ada di Indonesia, di antaranya berada di sektor agrikultur atau pertanian. Kemudian, industri generasi kedua seperti sektor pembuatan rokok kretek tangan dan industri batik yang menggunakan canting, hingga saat ini masih beroperasi. “Terhadap sektor tersebut, pemerintah berkomitmen untuk terus mengembangkannya dengan lebih produktif dan inovatif,” tuturnya.

Sementara itu, industri generasi ketiga, yang telah menggunakan mesin otomatis dengan melibatkan hubungan antara manusia dan mesin pun tidak akan ditinggalkan. Saat ini, Indonesia sedang siap memasuki revolusi industri keempat, dengan pemanfaatan teknologi digital, yang diproyeksikan akan menjadi lompatan besar bagi semua sector manufaktur.

“Di industri keempat ini, mesin beroperasi sendiri, bukan human to machine lagi, tetapi machine to machine learning karena faktor intelektual yang diinput dalam program System Application and Product in data processing (SAP). Ini sudah masuk ke yang namanya artificial intelligence,” jelasnya.

Airlangga menilai, implementasi industri 4.0 memiliki potensi luar biasa dalam merombak aspek rantai nilai di sektor industri, serta mampu mengubah berbagai aspek dalam kehidupan manusia.  “Tidak hanya dalam proses produksi manufaktur, industri 4.0 melahirkan model bisnis yang baru dengan basis digital guna mencapai efisiensi dan produksi yang tinggi dengan kualitas yang lebih baik,” terangnya.

Lebih lanjut, terkait dengan kekhawatiran tergantikannya tenaga manusia dengan tenaga mesin, sebenarnya terjadi pada saat revolusi industri ketiga, bukan pada revolusi industri keempat. Justru pada revolusi industri keempat atau era digitalisasi, akan butuh banyak pekerjaan di bidang analisa data atau artificial intelligence. “Biasanya pekerjaan ini berhubungan dengan statistik,” tandasnya.

Oleh karena itu, memasuki revolusi industri 4.0, pemerintah mendorong sumber daya manusia (SDM) yang mumpuni melalui reskilling. “Untuk memantapkan industri 4.0, vokasi dan retraining sangat diperlukan. Industri 4.0 adalah tantangan yang sangat baik bagi Indonesia karena dengan industri 4.0 akan menjadi lebih efektif dan produktif,” imbuhnya.

Guna memacu peningkatan pendidikan vokasi industri untuk menunjang SDM kompeten dalam menghadapi era industri 4.0, Kemenperin telah menjalankan program link and match, dengan menggandeng sebanyak 2.074 SMK dan 745 perusahaan dari wilayah Sumatera, Jawa, Kalimantan, dan Sulawesi.

Selain itu dilakukan pelatihan industri berbasis kompetensi dengan sistem 3 in 1, pembangunan infrastruktur kompetensi (SKKNI, LSP dan Sertifikasi Kompetensi), serta pembangunan pusat inovasi dan pengembangan SDM industri 4.0.


 



TERKINI