Ilustrasi | Foto: Ist

Menebak Kartel Dunia Penerbangan Nasional

11 Maret 2019

Moneter.id - Polemik mahalnya harga tiket untuk penerbangan domestik masih belum reda meski telah ada komitmen dari perusahaan penerbangan untuk menurunkan harga tiket. Hal ini dinilai oleh Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) sebagai praktik penetapan harga secara bersama-sama dan melanggar aturan dalam UU No. 5 Tahun 1999.

Pasalnya, jika mereka akan menurunkan harga secara bersama-sama, maka memungkinkan juga industri penerbangan melakukan kenaikan harga secara bersama-sama pula. Tindakan ini mengarah pada perilaku kartel.

Bisnis penerbangan di Indonesia memiliki pemain-pemain dengan penguasaan pangsa pasar yang sangat besar. Lion Air yang bergerak di bisnis Low Cost Carrier (LCC) sudah mulai merajai sejak 2008 jauh meninggalkan Garuda Indonesia.

Pada tahun tersebut juga ditandai dengan merosotnya kinerja Batavia Air, Mandala, dan Merpati. Alhasil Lion Air dengan harga yang relatif lebih murah bisa merajai industri penerbangan tanah air. Dilihat secara Group, Garuda Indonesia dan Lion Air bersaing ketat pada periode 2009-2015.

Namun Lion Air Group tetap yang memimpin dengan pangsa pasar lebih dari 45% hingga pada 2017, pangsa pasar Lion Air Group sudah mencapai 50%. Sedangkan Garuda Indonesia mulai menurun semenjak 2015. Faktor perubahan manajemen disinyalir menjadi penyebab menurunnya pangsa pasar perusahaan BUMN ini.

Perilaku kartel yang dilakukan oleh perusahaan penerbangan domestik dapat diduga dengan melihat konsentrasi pasar yang mengarah pada bentuk pasar oligopoli (bahkan cenderung duopoli).

Dilihat dari Tingkat Konsentrasinya, kecurigaan adanya duopoli didasarkan pada tingkat concentration ratio di industri ini mencapai 83% (2017). Penguasaan pasar yang mencapai 83% membuat kedua perusahaan teratas bebas untuk menentukan harga ataupun kuantitas dari penerbangan.

Hal ini semakin diperparah dengan bergabungnya Sriwijaya Air Group ke dalam Garuda Indonesia Group yang semakin memperbesar tingkat konsentrasi pasar pada dua group penerbangan nasional tersebut. Air Asia tidak akan mampu menembus pangsa pasar mereka berdua.

Dengan tingkat penguasaan pangsa pasar yang begitu hebat dari dua perusahaan maskapai tersebut, kedua perusahaan dapat dengan mudah mengatur harga. Pada pangsa pasar LCC, seharusnya Lion Air mempunyai kekuatan untuk mengatur harga terlebih dahulu, namun justru Citilink yang menaikkan harga duluan.

Begitu juga di pasar Full Service Carrier (FSC), justru Batik Air yang duluan menaikkan harga. Dalam teori seharusnya yang memegang pangsa pasar terbanyak menjadi penentu harga duluan, namun yang terjadi adalah sebaliknya.

Teman-teman dari INACA berpendapat bahwa faktor harga avtur menjadi penyebabnya. Namun data menunjukkan bahwa harga avtur di Bandara Soekarno-Hatta yang dipasok oleh Pertamina justru lebih murah dibandingkan dengan Shell yang menjual avtur di Singapura (Changi) dan Malaysia. Bahkan harga avtur diakui Kementerian BUMN terus menurun sejak November 2018 lalu.

Hal ini senada dengan penurunan harga minyak dunia pada akhir tahun 2018 hingga awal tahun ini. Jadi Harga avtur yang memang mencapai 40 hingga 45% dari total biaya perusahaan, bukan menjadi penyebab mahalnya harga tiket pesawat.

 

Oleh: Nailul Huda

Peneliti Center of Innovation and Digital Economy

Institute for Development of Economics and Finance (INDEF)


TERKINI