Ilustrasi e-Commerce | Foto: Ist

Kemendag Rangkul Stakeholders Pacu Ekspor Manfaatkan e-Commerce

12 April 2019

Moneter.id - Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan terus berupaya untuk meningkatkan ekspor non migas Indonesia yang tahun ini ditargetkan meningkat 7% di banding dengan tahun sebelumnya. Salah satu upaya yang dilakukan Direktorat Jendral Pengembangan Ekspor Nasional (Ditjen PEN) Kemendag yaitu merangkul para stakeholder di bidang e-commerce untuk memaksimalkan peluang peningkatan ekspor non-migas.

Saat ini terdapat puluhan Kementerian maupun lembaga yang memberi bantuan kepada para pelaku usaha untuk memanfaatkan e-commerce  namun dirasakan tidak terjadi peningkatan yang nyata di dalam peningkatan ekspor. Kondisi yang terjadi saat ini di dalam perdagangan dalam jaringan (e-commerce, cross broder trade) menurut cacatan terdapat lebih dari 20 juta buah consignment note dari luar negeri pada tahun 2018 ke Indonesia namun sebaliknya hanya 1% ekspor Indonesia yang tercatat menggunakan perdagangan secara elektronik. Situasi ini diduga sebagai akibat dari kesalahan fokus dan target dalam rantai pembinaan yang dilakukan.

“Sejalan dengan perkembangan dunia saat ini khususnya di era revolusi industri 4.0, digitalisasi dalam perekonomian menjadi andalan pemerintah untuk menopang pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam rangka peningkatan ekspor,” kata Direktur Kerja Sama Pengambangan Ekspor Nasional, Marolop Nainggolan, pada pertemuan dengan tema Pengembangan UKM Tujuan Ekspor Melalui Pemanfaatan E-Commerce di Bogor, (10/04)

Menurut Marolop, diperlukan kemudahan bagi para pelaku usaha Indonesia untuk melakukan ekspor melalui platform e-commerce Indonesia khusus ekspor agar tidak hanya produk luar negeri yang membanjiri pasar Indonesia, tapi juga sebaliknya konsumen di luar negeri dapat dengan mudah dipesan dari luar negeri.

“Ironinya, belum ada platform yang menyediakan layanan ekspor melalui perdagangan online di dalam negeri,” tambah Marolop Nainggolan.

Turut hadir pada pertemuan yang dilaksanakan oleh Direktorat Kerjasama Pengembangan Ekspor itu, adalah para praktisi seperti IDEA, beberapa platform perdagangan online, perusahaan logistik dan wakil dari Kemenko Perekonomian, Bea dan Cukai, Badan Karantina serta Pemda Kabupaten Bogor dan Kota Bogor.

Pertemuan mencatat beberapa masalah dalam pengembangan e-commerce dalam negeri terutama menyangkut kesiapan pelaku usaha maupun dalam kebijakan dan regulasi. Dipandang perlu upaya semua pihak untuk meningkatkan komitmen dan kesediaan dari para pelaku UKM untuk memasuki e-commerce.

Para pengelola platform mendapat kesan bahwa pelaku usaha umumnya tidak berkeinginan berdagang melalui e-commerce karena merasa sudah cukup beruntung melalui perdagangan konvensional dalam pasar dalam negeri yang cukup besar.

Tiga hal yang perlu diperhatikan dalam digitalisasi UKM di Indonesia yakni,pertama, focus pada segmen pelaku UKM strategis yang memiliki mindset entrepreneurship, agresif dalam menghadapi tantangan dan menangkap peluang.

Kedua, hilirisasi pada peningkatan produk local melalui peningkatan value added,  unggul dalam pasar nasional dan dapat bersaing pada pasar global.  Terakhir, ketiga, berorientasi ekspor Business to Business (B2B) dan Business to Customer (B2C) melalui platform global.

Sebagai salah tindak lanjut dari pertemuan ini, para peserta bersepakat perlunya sinergi dari semua pemangku kepentingan untuk pengembangan ekspor oleh UKM melalui e-commerce. “Untuk itu, para peserta mengusulkan sebuah kegiatan percontohan yang diharapkan dapat menarik minat para pelaku usaha menggunakan e-commerce,” jelas oleh Marolop Nainggolan.

Pilot project  tersebut akan segera dilaksanakan dalam waktu dekat dengan memberi fokus kepada satu sektor usaha tertentu dengan tujuan pasar tertentu,” lanjut Marolop. 

 “Melalui bimbingan yang intensif, di akhir pilot project ini diharapkan menghasilkan 10 UKM eksportir baru,” pungkasnya.


TERKINI