Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo | Foto: Ist

CITA: Penurunan Tarif PPh Badan Harus Dilakukan Hati-hati

04 Juli 2019

Moneter.id - Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prastowo menekankan, penurunan tarif Pajak Penghasilan (PPh) Badan dari 25 persen menjadi 20 persen harus dilakukan secara hati-hati.

“Tetap harus dilakukan secara hati-hati dengan memperhitungkan dampak penurunan penerimaan dalam jangka pendek,” ucapnya, Rabu (3/07). 

Ia menjelaskan, 
tarif pajak yang kompetitif dapat menjadi perangsang bagi investor untuk menginvestasikan dananya di Indonesia, meski belum terdapat bukti empirik yang kuat bahwa penurunan tarif PPh berkorelasi positif dengan kenaikan tax ratio.

Yustinus menerangkan, Indonesia sendiri pernah menurunkan tarif pajak tahun 2000 dan 2008, dan tidak diikuti peningkatan rasio pajak secara signifikan. Secara umum tarif PPh Badan Indonesia juga bukan yang tertinggi di ASEAN.

Tarif PPh Badan Indonesia 
25%Filipina (30%), Myanmar (25%), Laos (24%), Malaysia (24%), Thailand, Vietnam, Kamboja (20%), Singapura (17%).

Sedangkan tarif PPh Orang Pribadi Indonesia 30% (tarif progresif 5%-30%)India (30%), Vietnam, Thailand, Filipina, AS (37%), Korea Selatan (42%), China, Afrika Selatan, Inggris (45%), Belanda (52%), Denmark (55,8%), Jepang (56%), Swedia (61,85%).

"Berdasarkan pertimbangan tersebut, tarif PPh Badan tidak dapat diturunkan secara ekstrem. Lebih baik dilakukan dua langkah. Diturunkan dari 25% menjadi 22% untuk waktu dua tahun, lalu dievaluasi tren dan pengaruhnya ke penerimaan dan investasi. Jika positif, maka dapat diturunkan selanjutnya ke 18%," pungkasnya
.


TERKINI