Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kementerian Perindustrian, Ngakan Timur Antara.

Ini Enam Hasil Litbang Unggulan Kemenperin

08 Agustus 2019

Moneter.id - Kementerian Perindustrian semakin gencar memacu lembaga riset yang dimilikinya agar lebih aktif melakukan kegiatan penelitian dan pengembangan (litbang). Tujuannya adalah menciptakan inovasi teknologi bagi sektor industri untuk mendorong peningkatan produktivitas dan daya saing.

“Litbang menjadi kegiatan unggulan untuk sektor industri, karena bertujuan menghasilkan produk yang kreatif, inovatif, dan kompetitif. Dari inovasi teknologi tersebut, kita dapat mengolah bahan baku dengan nilai tambah dan daya saing yang lebih tinggi,” kata Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Industri (BPPI) Kemenperin, Ngakan Timur Antara di Jakarta, Rabu (7/8).

Kepala BPPI menyampaikan, pihaknya terus memotivasi lembaga litbang di bawah BPPI Kemenperin untuk memberikan kontribusi besar melalui pelayanan teknisnya. Hal ini guna menjawab tantangan di sektor industri manufaktur saat ini, terutama dalam upaya meningkatan nilai tambah bagi komoditas domestik dan mengurangi ketergantungan pada produk impor.

“Sekarang BPPI Kemenperin didukung sebanyak 24 unit penyedia layanan jasa teknis di berbagai daerah, yang terdiri dari 11 unit Balai Besar, 11 unit Balai Riset dan Standardisasi Industri (Baristand Industri), Balai Sertifikasi Industri, serta Balai Pengembangan Produk dan Standardisasi Industri,” sebutnya.

Pada tahun ini, telah terpilih enam hasil inovasi terbaik dari unit litbang di bawah BPPI. Pertama, Baristand Industri Medan yang menghasilkan Rekayasa dan Rancang Bangun Heavy Duty Coupling Produk Industri Kecil Menengah untuk Pabrik Kelapa Sawit.

“Inovasi ini untuk meningkatkan efisiensi produksi dan menekan nilai impor pada komponen mesin yang digunakan oleh pabrik kelapa sawit,” ungkap Ngakan.

Kedua, Balai Besar Kerajinan dan Batik dengan menciptakan dua hasil litbang terbaik, yaitu Perancangan Aplikasi Pembeda Produk Batik dan Tiruan Batik menggunakan Tensor Flow, Batik Analyzer. Ini sebuah aplikasi yang mengadopsi teknologi artificial intelligence (AI), berupa machine learning yang sistemnya dapat dilatih untuk membedakan produk batik dan produk tiruan batik.

Ketiga, adalah Limbah Kulit Buah Kakao Untuk Pewarna Batik. “Limbah kulit buah kakao yang selama ini belum banyak dimanfaatkan dapat menjadi produk yang lebih bernilai untuk keperluan bahan pewarna alami batik,” imbuhnya.

Berikutnya, inovasi dari Balai Besar Kimia Kemasan dengan judul “Antioksidan dan Wound Healing dari Ekstraksi Spirulina sp sebagai Bahan Sediaan Kosmetik”. Berdasarkan analisa dari percobaan ekstraksi yang telah dilakukan, antioksidan tersebut berpotensi digunakan sebagai bahan untuk mempercepat penyembuhan luka (wound healing) dengan meningkatkan pertumbuhan sel sehingga regenerasi sel pada kulit yang mengalami kerusakan akan tumbuh lebih cepat.

Adapun, inovasi kelima dari Balai Besar Pulp dan Kertas yang menghasilkan riset dengan judul “Furfural dari Proses Pembuatan Pulp”. Penelitian ini memanfaatkan cairan prehydrolized liquor (PHL) untuk mendapatkan furfural atau salah satu senyawa kimia yang merupakan salah satu bahan baku industri farmasi. Selama ini, furfural hanya didapatkan melalui impor,” jelas Ngakan.

Sementara itu, Balai Besar Tekstil dengan judul risetnya: “Xanthan Gum dari Xanthomonas campestris Sebagai Pengental Untuk Aplikasi Proses Pencapan Tekstil”. Bahan tersebut digantikan dengan Xanthan Gum dengan media ampas tahu yang memiliki hasil kualitas printing warna yang lebih baik,” tungkas Ngakan.


TERKINI