Bank Indonesia

BI: Turunnya Suku Bunga Acuan 25 Bps Dorong Penyaluran Kredit Lebih Cepat

23 Agustus 2019

Moneter.id - Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan turunnya suku bunga acuan 25 bps akan mendorong penyaluran kredit dapat lebih cepat, sehingga likuiditas perbankan akan tercukupi.  

"Bunga kredit yang turun ini akan terus mendorong penyaluran kredit karena likuiditasnya cukup. Karena itu, kita ingin mendorong permintaan kredit korporasi dan rumah tangga," ujarnya di Jakarta, Jumat (23/8).

Adapun sektor yang telah mengalami penurunan suku bunga kredit antara lain modal kerja, investasi dan kredit konsumsi.

Seperti diketahui, saat ini suku bunga kredit perbankan mengalami penurunan sekitar 0,06% atau enam basis poin. Tercatat secara year on year (yoy) hingga Agustus suku bunga kredit perbankan sudah turun 30 basis poin.

Menurut Perry penurunan suku bunga kredit perbankan sudah dilakukan bank sejak tahun lalu, meski suku bunga acuan pernah mengalami peningkatan.

"Suku bunga kredit di perbankan memang terus mengalami penurunan. Tahun lalu hingga tengah tahun ini. Saat BI menaikan bunga acuan hingga 175 basis poin, justru bunga kredit perbankan terus mengalami penurunan," jelas Perry. 

Berdasarkan data uang beredar BI pada Juni 2019 suku bunga kredit tercatat 10,73% turun tiga basis poin dibandingkan pada bulan sebelumnya. Secara rata-rata tertimbang suku bunga simpanan berjangka tenor satu bulan 6,76% dari sebelumnya 6,82%. Kemudian tenor enam bulan 7,26% dari sebelumnya 7,31%.

Suku bunga simpanan berjangka tenor tiga bulan tercatat relatif stabil sebesar 6,79%. Sementara suku bunga simpanan berjangka waktu 12 bulan naik menjadi 7,05% dan 24 bulan meningkat menjadi 7,34%.

Ke depan, Bank Indonesia memastikan penurunan suku bunga acuan bertransmisi pada suku bunga kredit. Bank Indonesia berupaya menjaga kecukupan likuiditas perbankan dengan perkiraan pertumbuhan kredit perbankan kisaran 10% - 12% pada tahun 2019.

"Bank Indonesia memandang terbuka ruang kebijakan makroprudensial yang akomodatif untuk mendorong pertumbuhan kredit tanpa mengganggu stabilitas sistem keuangan," ucapnya.


TERKINI