Menteri Perdagangan RI, Enggartiasto Lukita melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri Perdagangan dan Industri India Piyush Goyal pada Pertemuan Menteri Ekonomi ASEAN (ASEAN Economic Ministers’ Meeting/AEM) ke-51 di Bangkok, Thailand, Minggu (8/9).

Indonesia Minta India Turunkan Tarif Bea Masuk Minyak Kelapa Sawit

10 September 2019

Moneter.id - Menteri Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita meminta India menurunkan tarif bea masuk produk Indonesia ke India, yaitu minyak kelapa sawit yang telah disuling (refined, bleached, and deodorized palm oil/RBDPO).

Penurunan tarif tersebut merupakan komitmen Indonesia dan India di bawah perjanjian ASEAN-India Free Trade Agreement (AIFTA) yang disepakati Mendag RI dengan Menteri Perdagangan, Industri dan Penerbangan Sipil India, Suresh Prabhu, pada 22 Februari 2019 di New Delhi, India.

Indonesia dan India sepakat melakukan pertukaran penurunan bea masuk untuk produk RBDPO (HS 1511.90.10, HS 1511.90.20, dan HS 1511.90.90) Indonesia dan gula mentah (raw sugar) (HS 1701.13.00 dan HS 1701.14.00) India.

“Sesuai komitmen, Indonesia telah menurunkan tarif gula mentah India dan berlaku efektif sejak 8 Juli 2019. Indonesia juga telah mengumumkan hal tersebut ke semua semua pihak yang terkait dalam AIFTA pada 24 Juli 2019. Namun sayangnya, sampai saat ini India masih belum memenuhi komitmennya menurunkan tarif bea masuk RBDPO Indonesia,” ujar Mendag dalam pertemuan bilateral di Bangkok, Thailand, Minggu (8/9).

Menurut Mendag, India menyatakan masih mempertimbangkan dan belum memutuskan rencana implementasi komitmen tersebut. Hal ini ditengarai karena produsen minyak nabati India sedang mengalami kerugian serius akibat peningkatan impor RBDPO dari Malaysia secara drastis sepanjang Januari-Juni 2019.

Saat ini, kata Mendag, otoritas India tengah memulai penyidikan tindakan pengamanan perdagangan sehingga kemungkinan penurunan bea masuk RBDPO untuk Indonesia belum bisa dilaksanakan dalam waktu dekat.

“Kondisi ini agak mengecewakan karena penurunan tarif seharusnya segera diimplementasikan dalam 2019 ini. Saat ini sudah masuk September, artinya waktu bagi India memutuskan tidak lama lagi. Untuk itu, diharapkan Pemerintah India dapat mempertimbangkan opsi penurunan bea masuk produk Indonesia lainnya, di samping RBDPO,” lanjut Enggar.

Bagi Indonesia, penurunan tarif RBDPO diyakini dapat meningkatkan daya saing produk RBDPO, terutama agar dapat berkompetisi dengan Malaysia di pasar India. Komitmen penurunan bea masuk yang harus dipenuhi India yaitu memberikan tarif bea masuk RBDPO dalam kerangka AIFTA sama seperti dalam kerangka India-Malaysia Comprehensive Economic Cooperation Agreement (IM CECA). Tarif yang berlaku untuk IM CECA dan AIFTA pada Januari-Desember 2019 berturut-turut adalah 45 persen dan 50 persen.

Sementara itu, komitmen Indonesia menurunkan tarif bea masuk gula mentah India telah tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) No. 96 Tahun 2019 tentang Perubahan Nilai Tarif Berdasarkan AIFTA.

Menurut Mendag, penurunan tarif bagi gula mentah India tersebut memberikan dampak positif yang signifikan bagi India. India kini memiliki peluang berkompetisi yang sama dengan negara-negara ASEAN, Australia, dan Selandia Baru dalam mengakses pasar Indonesia, yakni dengan persentase pangsa pasar 5 persen.

Pada 2018, India merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-4 dan negara sumber impor ke-9 bagi Indonesia. Total Perdagangan Indonesia-India pada 2018 mencapai USD 18,7 miliar, dengan ekspor Indonesia ke India sebesar USD 13,7 miliar dan impor sebesar USD 5,0 miliar. Dengan demikian, Indonesia surplus sebesar USD 8,7 miliar.

Produk ekspor utama Indonesia ke India pada 2018 adalah batu bara USD 5,37 miliar, minyak kelapa sawit dan turunannya USD 3,56 miliar, karet alam USD 429,2 juta, bijih tembaga dan konsentratnya USD 414,9 juta, dan industrial monocarboxylc fatty acids USD 297,4 juta.

Sedangkan, produk impor utama Indonesia dari India pada 2018 adalah cyclic hydrocarbons USD 356,7 juta, kendaraan bermotor USD 307,0 juta, daging bovine animals, beku USD 283,6 juta, kacang tanah USD 223,9 juta, serta mobil motor dan kendaraan bermotor lainnya USD 159,8 juta.

Selain itu, India merupakan negara urutan ke-25 sumber investasi Indonesia pada 2018 dengan nilai sebesar USD 82,1 juta yang terdiri dari 405 proyek.


TERKINI