PT Indonesian Tobacco Tbk

Indonesian Tobacco Baru Kantongi Laba Bersih Rp1,08 Miliar di Semester I/2019, Masih Jauh dari Target Tahun Ini

02 Oktober 2019

Moneter.id - PT Indonesian Tobacco Tbk (ITIC) mengantongi laba bersih sebesar Rp1,08 miliar sepanjang semester I/2019. Angka ini masih jauh dari target laba tahun ini yang dipatok sebesar Rp12 miliar. Meski demikian, perseroan tidak niat untuk mengkoreksi target laba taghun ini.

”Target laba tetap di angka tersebut," kata Direktur Utama Indonesian Tobacco, Djonny Saksono di Jakarta, Selasa (01/10).

Djonny optimistis dapat mencapai target laba seiring dengan kenaikan penjualan.

Sebagai informasi, perseroan mengantongi penjualan sebesar Rp20,19 miliar atau tumbuh 20,19% secara tahunan. Papua memberikan kontribusi 70,12% terhadap penjualan, diikuti Kalimantan 14,22%, dan Nusa Tenggara 13,77%.

Lainnya berasal dari Sulawesi, Jawa, Sumatra, Singapura, dan Malaysia. Meski penjualan mencatatkan pertumbuhan, tetapi laba bersih perseroan turun 65,93% menjadi Rp1,08 miliar.

Djonny menjelaskan, penjualan dan laba semestinya meningkat cukup baik. Hanya saja, laba perseroan tertekan oleh beban keuangan yang meningkat 91,49% menjadi Rp11,70 miliar.

Kenaikan beban keuangan ini karena perseroan harus membayarkan denda pembatalan perjanjian kredit dengan Bank Mestika Dharma. Denda tersebut senilai total Rp4,1 miliar.

Sementara, ITIC bersiap menaikkan harga produk pada tahun depan sekitar 10%. Ini seiring dengan kenaikan produk rokok lainnya akibat kenaikan cukai rokok sekitar rata-rata 23%.

"Sudah pasti kenaikan harganya bisa 10%, karena harga-harga rokok bakal naik minimal 35%," ucapnya.

Terkait kenaikan tarif cukai sekitar dan harga jual eceran (HJE) dengan rata-rata sekitar 35% mulai 1 Januari 2020, tambah Djonny, ada prospek dan konsekuensi dari kenaikan tarif cukai dan harga jual di level rata-rata 10% -15% per tahun.

Untuk kenaikan tarif cukai pada 2020 diperkirakan bakal memberikan dampak yang signifikan bagi pemain di industri rokok. Dampak yang signifikan ini merupakan kumulatif dari tidak adanya kenaikan cukai pada tahun ini.

”Ada sisi positif, ada sisi negatifnya juga dari kenaikan tarif cukai. Tergantung dari sudut pandang mana kami melihatnya,"tuturnya.

Produsen tembakau iris ini, melihat akan adanya kecenderungan konsumen mengalihkan preferensi ke rokok tembakau iris dengan harga yang lebih murah. Peralihan preferensi rokok ini seiring dengan kenaikan harga rokok yang tinggi.

"Produk ITIC akan mendapat lebih banyak peminat karena para konsumen yang merasa berat dengan kenaikan harga rokok akan mencari alternatif yang lebih murah," pungkasnya.


TERKINI