Tower Bersama Infrastructure

Tower Bersama Infrastructure Bakal 'Stock Split' dari Rp100/Saham Jadi Rp20/Saham

09 Oktober 2019

Moneter.id - PT Tower Bersama Infrastructure Tbk (TBIG) berencana melakukan pemecahan nilai saham atau stock split dengan rasio 1:5. Perseroan akan memecah nilai nominal saham dari Rp 100 per saham menjadi Rp 20 per saham. 

“Pelaksanaan pemecahan nilai saham akan dilakukan setelah mendapatkan persetujuan dalam rapat dengan memperhatikan perundang-undangan yang berlaku,” tulis perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Selasa (8/10).

Dijelaskan, selain pemecahan nilai saham, perseroan juga akan penerbitan surat utang berdenominasi mata uang asing. Untuk memuluskan kedua aksi korporasi tersebut, TBIG akan menggelar rapat umum pemegang saham luar biasa (RUPSLB) pada 30 Oktober 2019 mendatang guna mendapatkan persetujuan.

Persetujuan ini adalah perubahan atas struktur transaksi yang telah disetujui pada rapat umum pemegang saham (RUPS) sebelumnya, 21 Mei 2019.

Selain itu, TBIG berencana menerbitkan surat utang global (global bond) sebesar US$ 650 juta atau setara Rp 9,1 triliun, lebih rendah dari target semula US$ 850 juta.

Aksi ini tidak dilakukan melalui anak usaha, TBG Global Pte Ltd, melainkan langsung diterbitkan perseroan. Notes ini akan diterbitkan tanpa jaminan dengan jatuh tempo paling lama 10 tahun. Sedangkan penetapan bunga maksimal 6% tergantung tingkat suku bunga di pasar.

“Penerbitan surat utang cenderung lebih efisien apabila dilakukan langsung oleh induk usaha,” kata Direktur Keuangan Tower Bersama Infrastructure, Helmy Yusman Santoso.

Namun, Santoso menjelaskan, saat ini pihaknya belum dapat menetapkan waktu penerbitan dilakukan langsung tahun ini atau tahun depan.

Sekedar informasi, per 30 Juni 2019, Tower Bersama dan anak usaha memiliki saldo surat utang sebelum dikurangi biaya pinjaman yang belum diamortisasi senilai Rp 8,56 triliun.

Nilai itu terdiri dari surat utang berdenominasi dolar serta rangkaian penawaran obligasi berkelanjutan.

Pada tahun ini, Tower Bersama berencana melakukan pengembangan secara anorganik. Salah satunya adalah mengikuti lelang penjualan 3.000 menara telekomunikasi yang digelar PT Indosat Tbk (ISAT).

Jika berhasil menang, aksi ini akan menjadi yang kedua kalinya setelah perseroan mengakuisisi 2.500 menara Indosat pada Agustus 2012.

Terkait pendanaan akuisisi, perseroan bisa menariknya dari berbagai sumber, termasuk kas internal, pinjaman bank ataupun obligasi.

Hingga Juni 2019, perseroan telah menyerap capex sebanyak Rp 933 miliar. Tahun ini, perseroan juga berencana menaikkan belanja modal yang semula dipatok berkisar Rp 1,5-2 triliun, apabila berhasil menang lelang.


TERKINI