Kawasan Industri Morowali

Sektor Manufaktur Dunia Melambat, Indonesia Kian Melesat di Kuartal I/2019

12 Oktober 2019

Moneter.id - Dalam laporan yang dirilis United Nations Industrial Development Organization (UNIDO), terjadi perlambatan pada sektor manufaktur di beberapa belahan dunia pada kuartal I/2019. Hal ini terjadi karena dampak perang dagang Amerika Serikat dan China serta pemberlakuan tarif dari Uni Eropa.

Berdasarkan data UNIDO, pada kuartal I/2019, tingkat pertumbuhan manufaktur dari negara-negara industri hanya sekitar 0,4% dibandingkan periode yang sama di tahun sebelumnya. Penurunan ini terjadi secara konsisten di setiap triwulan, yang sebelumnya mencapai 3,5% pada akhir 2017.

Contohnya, Amerika Utara mencatat tingkat pertumbuhannya secara year-on-year (y-o-y) hanya 1,8%. Ini menunjukkan penurunan 2,5% dari capaian pada kuartal IV/2018.

Berikutnya, tingkat pertumbuhan negatif dialami oleh Amerika Latin pada kuartal I/2019. Kontraksi terjadi 1,2% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, terutama disebabkan oleh resesi yang berkelanjutan dari Argentina dan penurunan angka manufaktur Brasil.

Sementara itu, akibat ketidakpastian akibat rencana Inggris menarik diri dari Uni Eropa (Brexit) akan berdampak bagi masa depan ekonomi di wilayah tersebut.

Merujuk data UNIDO, pertumbuhan sektor industri manufaktur di Eropa hanya 0,3%. Selanjutnya, data kuartal I/2019 menunjukkan pula tingkat pertumbuhan sektor manufaktur yang anjlok secara y-o-y dialami oleh dua negara ekonomi besar di wilayah Eropa, yakni Jerman dan Italia, yang masing-masing turun 2,3% dan 0,9%.

Data UNIDO juga memperlihatkan, pertumbuhan sektor industri yang negatif di beberapa negara Asia, antara lain adalah Taiwan -3,7%, Korea Selatan -1,7%, Jepang -1,1%, dan Singapura -0,3%. Namun, di antara negara Asia lainnya tersebut, pertumbuhan justru meningkat di Indonesia dan Vietnam yang masing-masing sebesar 5,1% dan 4,1%.

Menurut Kepala Statistik UNIDO Shyam Upadhyaya, meskipun secara global mengalami perlambatan, pertumbuhan sektor manufaktur di skala menengah dan berbasis teknologi tinggi tetap lebih dominan dibanding sektor yang teknologinya rendah.

“Ini merupakan suatu pergeseran menuju manufaktur yang berteknologi tinggi dan menunjukkan bahwa perubahan struktural sedang berlangsung,” ungkapnya.

Menurut Sekretaris Jenderal Kementerian Perindustrian Achmad Sigit Dwiwahjono, saat ini perekonomian global sedang melambat, karena ada faktor-faktor internasional. Kondisi ini berimbas pada produksi sektor industri di sejumlah negara dunia,” katanya di Jakarta, Jumat (11/10).

Seperti diketahui, PDB dari sektor manufaktur di Indonesia mencapai Rp565 triliun pada kuartal II/2019, meningkat dibanding perolehan di kuartal I/2019 sebesar Rp555 triliun. Capaian kuartal II tersebut tertinggi, karena rata-rata PDB manufaktur Indonesia per kuartal sekitar Rp468 triliun dari periode 2010-2019.  


TERKINI