Hamish Daud menjelaskan Aplikasi Octopus yang bisa mengubah sampah menjadi rupiah dalam Talkshow F8 di Center Stage arena F8, Makassar, Sabtu (12/10/19).

Di Festival F8, Octopus Ajak Masyarakat Ubah Sampah Jadi Rupiah

14 Oktober 2019

Moneter.id - PT Daur Ulang Industri Terpadu (aplikasi Octopus) bekerjasama dengan Festival F8 di Makassar yang berlangsung pada 11 – 13 Oktober 2019 lalu menunjukkan kepada masyarakat setempat cara termudah mengubah sampah non-organik menjadi barang yang bernilai rupiah.

Selama pelaksanaan F8, masyarakat Kota Makassar dan sekitarnya bisa membawa sampah non-organik dari rumah dan menjadikannya sebagai tiket masuk ke arena F8. Selain itu, hanya dengan mengunduh aplikasi Octopus masyarakat juga bisa masuk ke arena F8 tanpa biaya apa pun. 

Andi Moehammad Ichsan, CEO Aplikasi Octopus menjelaskan, konsep membawa sampah ini juga merupakan upaya untuk mengajak masyarakat mereduksi sampah plastik yang mereka gunakan.

Baca juga: Dukung Kinerja Bank Sampah, Pemkot Makassar Gandeng Octopus

“Jika pengunjung tidak membawa sampah, maka akan dikenakan ‘denda’ sebesar Rp 20.000 untuk membeli tiket masuk arena F8. Sampah-sampah yang sudah dikumpulkan nanti akan kami distribusikan kepada jaringan Unit Bisnis Sampah Octopus,” ucap Ichsan.

“Diharapkan, dengan konsep membawa sampah ini, pengunjung bisa memulai untuk memilah sendiri sampah non-organik mereka, sebuah gerakan sederhana yang bisa dimulai dari rumah, kost-an ataupun kantor untuk membantu pemulung maupun satgas dalam mengumpulkan sampah,” ujar Ichsan. 

Selama pelaksanaan acara F8, total sampah plastik yang sudah tereduksi kurang lebih berjumlah 350 kg dengan total 10.000 pengunjung.

Sementara, presenter dan aktor berkebangsaan asal Australia, Hamish Daud mengungkapkan, melalui aplikasi Octopus, kami ingin mengajak masyarakat untuk melihat sampah sebagai barang yang masih memiliki nilai ekonomi dan bahkan bisa menjadi sumber pendapatan yang bisa membiyai gaya hidup mereka.

“Aplikasi Octopus akan menghubungkan konsumen atau user yang sudah mengumpulkan sampah plastik mereka dengan scavenger Octopus, baik itu pemulung, unit bisnis sampah maupun satuan tugas (satgas) yang kemudian membawa sampah tersebut kepada pengepul seperti pengusaha plastik ataupun Bank Sampah,” ujarnya. 

 Menurutnya, sampah yang dikumpulkan oleh konsumen akan dikonversikan menjadi poin yang bisa ditukar menjadi uang tunai melalui proses tarik tunai di dalam aplikasi Octopus dan juga voucher menarik seperti voucher ngopi di coffee shop yang sudah bekerja sama dengan Octopus.

Sementara untuk scavenger, lanjut Hamish mereka akan mendapatkan insentif dari jarak pengambilan dan jumlah sampah yang diambil.

“Trend ngopi yang belakangan ini sudah menjadi salah satu lifestyle,khususnya untuk generasi milenial, ternyata bisa dibiayai hanya dengan mengumpulkan sampah non-organik yang telah mereka pakai. Insentif ini menjadi salah satu strategi pendekatan Octopus kepada generasi millenials, mengingat sudah banyak generasi millenial yang peduli lingkungan,” lanjut Hamish.

Adapun visi aplikasi Octopus dalam mendistribusikan sampah dari user sampai ke TPA (Tempat Pemrosesan Akhir) untuk mereduksi sampah non-organik sejalan dengan target pemerintah untuk mengelola sampah non-organik 100% pada 2025, yang mana dalam upaya meraih target tersebut dengan melakukan pengurangan (reduksi) sampah sebesar 30% dan penanganan (daur ulang/recycle) sampah sebesar 70%. 

 


TERKINI