Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita

Produksi Manufaktur Tumbuh, Menperin: Implementasi Peta Jalan Making Indonesia 4.0 Bakal Bangkitkan Industri Manufaktur Indonesia

04 Nopember 2019

Moneter.id - Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, pertumbuhan produksi industri manufaktur skala besar dan sedang pada triwulan III/2019 naik sebesar 4,35% (yoy) terhadap triwulan III/2018. Kenaikan tersebut, terutama disebabkan oleh peningkatan produksi di sektor industri pencetakan dan reproduksi media rekaman sebesar 19,59%, industri pakaian jadi 15,29%, industri minuman (naik 15,19%), industri pengolahan lainnya (naik 12,52%), dan industri makanan (naik 5,13%).

Sementara itu, jika pertumbuhan produksi industri manufaktur skala besar dan sedang pada triwulan III/2019 dibandingkan secara q-to-q terhadap triwulan II/2019, naik sebesar 5,13%. Industri yang mengalami kenaikan produksi tertinggi adalah industri barang galian bukan logam sebesar 14,15%.

Selanjutnya, diikuti industri alat angkutan lainnya, yang pertumbuhan produksinya naik 11,25%, industri kayu, barang dari kayu dan gabus (tidak termasuk furnitur) dan barang anyaman dari bamboo, rotan dan sejenisnya (naik 11,22%), industri kendaraan bermotor, trailer dan semitrailer (naik 10,40%), serta industri makanan (naik 9,90%).

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita optimistis, penerapan industri 4.0 akan membawa Indonesia masuk dalam jajaran 10 negara di dunia yang punya perekonomian terkuat pada tahun 2030. “Ini merupakan aspirasi besar dari roadmap Making Indonesia 4.0,” imbuhnya.

Presiden Joko Widodo telah memberikan arahan untuk melakukan transformasi sektor manufaktur di dalam negeri supaya mampu menghadapi perkembangan era industri 4.0. Implementasi peta jalan Making Indonesia 4.0 diyakini akan membangkitkan kembali industri manufaktur di Tanah Air,” Menperin Agus akhir pekan lalu.

“Dengan pemanfaatan teknologi industri 4.0, akan mendorong peningkatan produktivitas sektor industri secara lebih efisien. Hal ini karena telah terbangunnya konektivitas melalui teknologi digital. Misalnya, menggunakan internet of things atau artificial intelligence,” paparnya.

Peta jalan tersebut mendorong penerapan industri 4.0 yang bakal mampu mengoptimalkan potensi penambahan pertumbuhan ekonomi sekitar 1-2% dari baseline pertumbuhan 5%, peningkatan kontribusi industri terhadap PDB hingga 25%, peningkatan net export sebesar 10%, dan menciptakan sebanyak 17 juta lapangan kerja.

“Bahkan, kami juga meyakini, industri 4.0 akan dapat memunculkan pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti teknisi atau tenaga ahli yang mengoperasikan teknologi digital tersebut. Apalagi, saat ini banyak aplikasi yang telah berkembang untuk mendukung dalam proses produksi,” tutur Agus.

 


TERKINI