Ilustrasi | Foto: Ist

Komisi XI DPR RI Pertanyakan Piutang Himbara

27 Nopember 2019

Moneter.id - Anggota Komisi XI DPR RI Andreas Eddy Susetyo mempertanyakan masalah piutang negara, yang dilakukan oleh bank-bank pelat merah yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara). Selain itu, ia juga mempertanyakan apakah piutang yang sudah dihapus bukukan itu masih menemui sejumlah kendala, bagi Himbara yang beranggotakan Bank Mandiri, BRI, BTN dan BNI itu.

“Apakah keputusan yang telah dibuat di MK (Mahkamah Konstitusi) itu masih belum cukup kuat untuk ini, karena ini juga penting menyangkut persaingan usaha yang seimbang antara Bank BUMN dan swasta,” kata Andreas di Jakarta dilansir dari laman dpr.go.id, Senin (25/11).

Permasalahan stagnasi dana juga menjadi masalah bersama industri perbankan. Andreas mempertanyakan hal tersebut dikarenakan terbatasnya sumber dana yang ada di dalam negeri, serta dipengaruhi oleh iklim kompetisi dimana pemerintah juga mengeluarkan Surat Hutang Negara (SBN).

“Karena disebutkan, dua tahun ini kita sudah stagnan. Ya kita juga tahu, tetapi kalau kita dapat memahami penyebabnya dengan benar, maka kita sudah bisa mempunyai 50% jalan keluarnya. Karena itu kita harus jelas. Komisi XI menginginkan honest opinion dari pelaku industri, apa sih sebetulnya sehingga dana ini menjadi stagnan,” ungkapnya.

Merujuk data lembaga Penjamin Simpanan (LPS) mencatatkan adanya perlambatan pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) yang lebih besar daripada pertumbuhan kredit, dimana perlambatan tesebut membuat terjadinya kenaikan Loan to Deposit Ratio (LDR) perbankan mencapai 94,04% pada kuartal II/2019.

“Kalau perbankan LDR-nya sudah 94% itu, menurut saya, sudah lampu kuning itu. Jadi ini perlu ada penyelesaian yang jelas, untuk itu seluruh mitra harus menyampaikan solusinya terkait industri ini,” imbuhnya.

Terkait dengan permasalahan Bank Muamalat, Andreas juga sempat mempertanyakan pihak Himbara bahwa bank-bank anggotanya sempat diminta untuk menyelematkan bank syariah yang bermasalah tesebut.

Dirinya menyampaikan bahwa isu-isu tersebut menjadi penting menginat cakupannnya secara nasional. “Ini harus dibicarakan secara bersama-sama antar regulator dengan pelaku industri perbankan itu. Seringnya ketika kita menghadapi permasalahan tidak ada rencana yang matang. Karena permasalahan itu, baru ada rumor saja, maka harga sahamnya langsung turun. Dan kalau harga saham turun itu juga merugikan negara secara keseluruhan,” pungkasnya.

 


TERKINI