Ilustrasi jaringan pipa PGN | Foto: Ist

Tahun Ini, PGN Akan Bangun Jaringan Pipa Transmisi dan Distribusi Sepanjang Lebih dari 450 KM di Sumatera dan Jawa

06 Februari 2020

Moneter.id - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) telah menyiapkan berbagai rencana ekspansi sepanjang 2020. Salah satunya memperluas pembangunan infrastruktur, termasuk jaringan pipa transmisi dan distribusi sepanjang lebih dari 450 kilometer di beberapa sentra ekonomi baru di Sumatera dan Jawa.

“Pembangunan infrastruktur jaringan gas merupakan komitmen perseroan sebagai subholding gas. Dimana PGN juga sudah mengelola lini bisnis LNG dari Pertamina, sehingga kepastian pasokan gas ke pelanggan lebih terjamin,” kata Direktur Utama PGN, Gigih Prakoso di Jakarta, Rabu (5/2/2020).

Jelas Gigih Prakoso, PGN akan terus mengoptimalkan infrastruktur gas eksisting dan membangun infrastruktur baru untuk dapat melayani sebanyak mungkin pelanggan, baik rumah tangga, UMKM, korporasi, transportasi, kelistrikan dan BUMN lainnya.

”Strategi ini merupakan upaya PGN untuk memperkuat fundamental bisnis agar tumbuh berkelanjutan dalam jangka panjang. Terlebih lagi mayoritas cadangan migas di dalam negeri didominasi oleh gas bumi," jelasnya.

Saat ini PGAS telah membangun dan mengelola lebih dari 10 ribu km jaringan pipa distribusi dan transmisi gas nasional. Jumlah ini setara dengan 96% infrastruktur gas bumi di Indonesia. Hingga akhir 2019, PGAS telah menyalurkan gas bumi melalui jaringan distribusi sebanyak 988 BBTUD dan transmisi sebesar 2.045 MMSCFD.

Kata Gigih, harga gas saat ini menjadi salah satu tantangan bagi bisnis PGN. Namun, ia yakni pemerintah akan mengambil solusi terbaik untuk memastikan pembangunan infrastruktur gas bumi dapat terus meluas ke berbagai sumber pertumbuhan ekonomi di wilayah baru.

“Saat ini PGAS bersama stakeholder kementerian terkait sedang mengkaji efek penyesuaian harga gas terhadap aspek komersial bisnis, kinerja perseroan, keberlanjutan bisnis gas bumi, pengembangan infrastruktur hingga aspek menjalankan penugasan pemerintah,” ucapnya lagi.

Baca juga: Kata Ekonom PGN Akan Alami Dampak Negatif Jika Harga Gas Industri Turun

Sebab, katanya, tingkat keekonomian infrastruktur gas bumi di setiap daerah berbeda-beda. Oleh sebab itu penetapan harga gas juga harus dapat memastikan bahwa pembangunan infrastruktur dapat terus dilakukan.

Sementara, dalam 6 tahun terakhir, pelanggan PGAS dari berbagai segmen tumbuh dari sekitar 88 ribu pelanggan menjadi lebih dari 360 ribu pelanggan. Di sektor industri, sejak tahun 2013 biaya energi industri bisa dihemat sebesar Rp 36 triliun dibandingkan menggunakan bahan bakar minyak (BBM).

Di sektor kelistrikan, penggunaan gas bumi pada pembangkit listrik mampu menghemat biaya energi sebesar Rp 23 triliun ketimbang memakai BBM. Berkat efisiensi sumber energi ini, tarif listrik kepada masyarakat dan sektor usaha juga semakin kompetitif. Selanjutnya dalam rangka menjaga daya saing, perseroan memastikan akan menaikan harga gas industri yang sebelumnya sempat menuai penolakan dari pelaku industrti.

Katanya lagi, kenaikan harga gas industri menjadi US$ 6 per mmbtu mulai berlaku pada 1 April 2020 mendatang.”Kami sampaikan pembahasan penurunan harga gas industri sedang kami konsultasikan dengan kementerian ESDM dan SKK secara intensif. Sudah diputuskan target pelaksanannya adalah 1 april 2020. Jadi kami sekarang sedang koordinasi dengan SKK Mingas karena pemerintah juga sedang kaji penurunan harga gas dari hulunya," ungkapnya.


 


 


 



TERKINI