Maybank Indonesia

Pendapatan Maybank Indonesia Naik 3,7 Persen di 2019

21 Februari 2020

Moneter.id - PT Bank Maybank Indonesia Tbk (Maybank Indonesia) mencatat pertumbuhan pendapatan hingga 3,7% atau menjadi Rp10,8 triliun sepanjang tahun 2019. Tahun sebelumnya, perseroan membukukan pendapatan sebesar Rp10,4 triliun.

“Kenaikan pendapatan bruto terutama didukung oleh peningkatan pendapatan non bunga atau fee based income dalam periode tersebut,” tulis perseroan dalam siaran persnya di Jakarta, Kamis (20/2/2020).

Presiden Direktur Maybank Indonesia, Taswin Zakaria mengatakan, pendapatan operasional sebelum provisi naik 0,3% menjadi Rp4,4 triliun.

Namun sebaliknya, katanya, laba perseroan setelah pajak dan kepentingan non pengendali (PATAMI) tercatat sebesar Rp1,8 triliun atau turun dibandingkan priode yang sama tahun lalu Rp2,2 triliun.

”Penurunan laba karena adanya peningkatan provisi sehubungan langkah konservatif yang dilakukan bank dalam melakukan pencadangan kredit untuk portofolio pada segmen komersial yang terdampak oleh kondisi ekonomi yang menantang. Dimana provisi kerugian kredit naik 35,9% menjadi Rp1,8 triliun per Desember 2019," ujarnya.

Bank mencatat pertumbuhan pendapatan fee based income sebesar 14,1% menjadi Rp2,6 triliun pada Desember 2019 dibandingkan dengan Rp2,3 triliun pada periode yang sama tahun lalu, terutama didukung pendapatan dari fee Global Market, bancassurance, investasi, dan fee transaksi jaringan elektronik (e-channel).

"Tahun 2019 kembali menjadi tahun yang menantang, tetapi Maybank Indonesia berhasil memperoleh pendapatan operasional yang baik di tengah menurunnya pertumbuhan kredit. Fee income yang diperoleh dari transaksi melalui channel M2U, bancassurance, wealth management fee naik tajam dan menjadi penopang pertumbuhan pendapatan Maybank Indonesia," kata Taswin.

Pendapatan bunga bersih meningkat 0,8% menjadi Rp8,2 triliun, sementara marjin bunga bersih turun 17 basis point menjadi 5,07% pada akhir December 2019.

Namun, marjin bunga bersih pada Desember 2019 naik 10 basis point dibandingkan 4,97% pada September 2019 karena upaya berkelanjutan bank dalam meningkatkan imbal hasil kredit dan mengurangi biaya dana selama kuartal keempat tahun ini.

Perseroan juga berhasil mengurangi kelebihan likuiditas yang berbiaya tinggi yang dibukukan pada semester satu yang merupakan langkah aktif untuk memastikan kecukupan likuiditas dalam memitigasi semua risiko selama dan sesudah pemilu.

Bank akan terus menjaga kedisiplinan dalam penentuan suku bunga kredit dan pengelolaan dana secara aktif untuk dapat memitigasi tekanan pada marjin dengan lebih baik.

Strategi Bank untuk mengurangi biaya dana yang tinggi mengakibatkan penurunan total simpanan nasabah sebesar 5,3% menjadi Rp110,6 triliun per Desember 2019 dibandingkan dengan Rp116,8 triliun pada Desember 2018.

"Meskipun demikian, Bank terus secara aktif menjaga aset dan liabilitas untuk memastikan tingkat pendanaan dan biaya yang optimal setiap saat. Rasio Kredit terhadap Simpanan atau Loan to Deposit (LDR) berada pada tingkat yang sehat sebesar 94,1% sementara rasio cakupan likuiditas atau Liquidity Coverage Ratio (LCRa) berada pada 145,2% per Desember 2019, jauh melampaui kewajiban minimum sebesar 100%," tutup Taswin.


TERKINI