Ilustrasi | Foto: Istimewa

Enam BUMN Diusulkan Terima Dana Talangan, Salah Satunya Krakatau Steel Senilai Rp3 Triliun

13 Mei 2020

Moneter.id – Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati mengusulkan PT Krakatau Steel Tbk (KRAS) menerima suntikan dana senilai Rp 3 triliun dari pemerintah. Stimulus tersebut merupakan bagian dari pemberian dana talangan untuk modal kerja kepada enam BUMN di tengah pandemi Covid-19.

Selain Krakatau Steel, BUMN lain yang akan menerima dana talangan (investasi) adalah PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA) sebesar Rp 8,5 triliun, Perkebunan Nusantara (PTPN) senilai Rp 4 triliun, Perum Bulog senilai Rp 13 triliun, PT Kereta Api Indonesia (Persero) senilai Rp 3,5 triliun, dan Perum Perumnas senilai Rp 650 miliar.

Direktur Utama Krakatau Steel Silmy Karim mengatakan, perseroan masih menunggu arahan dari Kementerian BUMN sehingga belum dapat berkomentar terkait dana talangan sampai final.

“Perseroan juga akan mengumumkan target baru, termasuk produksi dan penjualan yang telah disesuaikan dengan dampak Covid-19 setelah Juni 2020. Kontraksi industri baja kemungkinan juga hampir terjadi di seluruh dunia,” katanya, Selasa (12/5/2020).

Sepanjang 2020, perseroan akan fokus pada penurunan biaya operasional ke kisaran US$ 16,5 juta per bulan. Pada awal tahun, posisi biaya operasional perseroan mencapai sekitar US$ 18 juta, mulai turun dari rata-rata biaya operasional pada 2018 sebesar US$ 33 juta per bulan.

Asal tahu saja, Krakatau Steel telah meraih kesekapatan dengan 10 kreditur dalam proses restrukturisasi utang senilai US$ 2 miliar pada Januari 2020 lalu.  Aksi ini dinilai mampu memberikan penghematan hingga US$ 685 juta dalam periode sembilan tahun ke depan.

Sepuluh kreditur Krakatau Steel tersebut adalah:

1. PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan porsi US$ 618,28 juta,

2. PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) senilai US$ 425,92 juta,

3. PT Bank Rakyat Indonesia (BBRI) US$ 337,39 juta,

4. PT Bank CIMB Niaga Tbk (BNGA) US$ 238,33 juta,

5. PT Bank OCBC NISP Tbk (NISP) US$ 138,65 juta,

6.PT Bank ICBC Indonesia dengan porsi pinjaman US$ 44,26 juta,

7. Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia US$ 79,83 juta,

8. PT Bank DBS Indonesia US$ 48,61 juta,

9. Standard Chartered Bank US$ 25,62 juta,

10. PT Bank Central Asia Tbk Tbk (BBCA) US$ 48,69 juta.

Skema restrukturisasi utang yang disepakati antara Krakatau Steel dengan 10 kreditur tersebut terbagi dalam tiga skema, antara lain tranche A dengan porsi US$ 220 juta bertenor sembilan tahun atau berakhir pada 2027.

Tranche B sebanyak US$ 735 juta bertenor tiga tahun, serta tranche C1 dan C2 yang masing-masing senilai US$ 789 juta dan US$ 262 juta bertenor sembilan tahun.

Sebagai informasi, sebagian cicilan pokok Krakatau Steel yang sebesar US$ 926 juta semula jatuh tempo pada 2019. Dengan adanya restrukturisasi, cicilan ini berkurang dari tahun ke tahun hingga nanti berakhir pada 2027.

“Restrukturisasi, total beban bunga selama sembilan tahun dapat berkurang secara signifikan dari US$ 847 juta menjadi US$ 466 juta,” kata Silmy.

Sementara, penghematan biaya yang diraih perseroan selama sembilan tahun sebesar US$ 522 juta untuk penghematan beban keuangan, dan US$ 163 juta untuk optimalisasi operasional perseroan.

Selama proyek restrukturisasi ini berlangsung, operasional perseroan diharapkan berjalan lebih baik,” tungkasnya.

 


TERKINI