Ilustrasi | Foto: Istimewa

Hasil Riset: 84 Persen Konsumen Akan Kunjungi Mall Saat Pandemi Usai

16 Juni 2020

Moneter.id – Para pelaku bisnis pusat perbelanjaan atau mal saat ini bersiap menyambut pengunjung setelah dibukanya kembali pusat perbelanjaan pada 15 Juni kemarin. Bisnis mal  termasuk salah satu sektor yang mengalami pukulan berat akibat pandemi COVID-19, dimana selama masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di DKI Jakarta jumlah pengunjung mal berkurang hingga setengah (49%) dari sebelumnya.

Berdasarkan temuan Nielsen dari studi yang dilakukan baru-baru ini mengenai dampak COVID-19 terhadap perilaku konsumen dalam mengunjungi pusat perbelanjaan di DKI Jakarta.

Studi Nielsen tersebut mengungkapkan bahwa 67% dari konsumen yang sebelumnya sering mengunjungi mal, berniat untuk mengunjungi mal setelah PSBB dilonggarkan.

Sementara itu, tampaknya masih butuh waktu untuk pengusaha pusat perbelanjaan untuk bisa mendapatkan kembali pengunjungnya karena bahkan saat pandemi telah berakhir nanti, tidak semua konsumen (84%) menyatakan ingin kembali berkunjung ke mal.

Terkait perilaku pengunjung mal, studi ini lebih lanjut menunjukkan bahwa akan terjadi pergeseran. Sebelum terjadi pandemi COVID-19, aktifitas yang paling banyak dilakukan oleh para pengunjung mal adalah membeli makanan siap saji dan minuman ringan seperti bubble tea dan kopi, atau  menonton film di bioskop.

Selama PSBB, konsumen mengunjungi mall utamanya adalah untuk berbelanja kebutuhan sehari-hari atau membeli obat/vitamin. Saat PSBB dilonggarkan atau berakhir, belanja kebutuhan sehari-hari masih menjadi tujuan utama konsumen ke mal, selain juga untuk membeli makanan siap saji, menonton film di bioskop dan berkumpul bersama teman.

Saat pandemi berakhir nanti, 65% dari konsumen menyatakan ingin berkunjung ke mal karena butuh untuk bersantai dan butuh hiburan. Hal ini memberikan indikasi bahwa konsumen juga menantikan pembukaan kembali pusat perbelanjaan karena mungkin sudah merasa sudah bosan tinggal di rumah saja selama hampir tiga bulan terakhir.

Pandemi COVID-19 berdampak pada pergeseran perilaku konsumen yang akan mengutamakan faktor kesehatan dan kebersihan. Para pengelola pusat perbelanjaan perlu dapat mengembalikan keyakinan konsumen untuk kembali berkunjung,  dengan  cara memastikan penerapan protokol kesehatan, baik oleh pihak mal maupun oleh para penyewa/pemilik toko di dalamnya.

Melakukan pengukuran suhu tubuh dan menerapkan disiplin memakai masker untuk semua pengunjung dan pekerja mal, menyediakan pembersih tangan di setiap sudut, membuat batas jarak antrian dan melakukan penyemprotan disinfektan secara berkala sudah menjadi tuntutan konsumen agar merasa aman berjalan-jalan di mal.

Di samping itu konsumen juga mengharapkan agar para pekerja seperti petugas keamanan, resepsionis, pelayan restoran dan kasir  dilengkapi dengan alat-alat kesehatan seperti pelindung wajah, masker, sarung tangan dan pembersih tangan.

Pengunjung juga cenderung akan mengurangi interaksi sentuhan dengan orang-orang dan lingkungan sekitar, karena pengelola pusat perbelanjaan perlu melakukan inovasi. 

“Pusat perbelanjaan dapat mengadaptasi inovasi teknologi seperti menggunakan sensor tanpa sentuhan pada tombol lift atau mesin tiket parkir, dan pada alat-alat di area toilet, kata Rusdy Sumantri, Director Consumer Insight, Nielsen Connect Indonesia di Jakarta, Senin (15/6/2020).

Hal tersebut diyakini Rusdy akan dapat membuat pengunjung merasa lebih aman dan nyaman. “Menyediakan tempat sterilisasi barang belanjaan, misalnya dengan menggunakan sinar UV juga dapat dipertimbangkan,” lanjutnya.

Lebih jauh, Rusdy mengatakan, pusat perbelanjaan dan pemilik merek harus berani untuk banyak beriklan dan menunjukkan positioning mereka terkait upaya-upaya yang dilakukan untuk untuk menjamin keselamatan pengunjung.

Pemilik merek dapat memanfaatkan akun sosial media korporat untuk memperkuat kedekatan dengan konsumen. Tetap memanfaatkan media elektronik, media cetak atau media luar ruang juga akan sangat membantu menjangkau konsumen lebih luas,” ujarnya.


TERKINI