Toko Marks & Spencer | Foto: Ist

Sejarah, Marks & Spencer Alami Kerugian Rp1,67 Triliun

05 Nopember 2020

Moneter.id – Perusahaan ritel asal Inggris, Marks & Spencer mencatat kerugian sebesar 87,6 juta poundsterling Inggris atau setara Rp1,67 triliun hingga 26 September 2020 akibat tekanan ekonomi dari dampak pandemi virus corona atau covid-19.

Kerugian itu berbanding terbalik dengan torehan keuntungan mencapai 158,8 juta poundsterling Inggris atau Rp2,96 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Kerugian ini sebagai yang pertama sejak 94 tahun terakhir.

Tercatat, penjualan perusahaan turun 15,8 persen menjadi 4,09 miliar poundsterling Inggris atau Rp76,48 triliun.

Bahkan, penjualan di toko cabang yang berada di pusat kota anjlok hingga 53 persen. Sebelumnya, perusahaan juga sempat mengumumkan bakal memangkas tujuh ribu pekerja mulai Agustus 2020.

Kata Kepala Eksekutif Marks & Spencer Steve Rowe, kondisi sulit ini memberi dampak bagi perusahaan untuk mempercepat perubahan struktural melalui efisiensi. Hal ini dilakukan melalui penerapan bisnis digital yang lebih luas hingga memangkas jumlah pekerja.

"Ini posisi yang lebih kuat, lebih ramping dan lebih fokus," kata manajemen dalam pernyataan resmi.

Saat ini, perusahaan sudah berhasil memangkas beban biaya mencapai 92 juta poundsterling Inggris. Rencananya, efisiensi akan dilanjutkan sampai 120 juta poundsterling Inggris melalui penutupan toko sampai tujuh tahun ke depan.

"Tujuan saya tetap tidak berubah, yaitu untuk memberikan transformasi jangka panjang untuk M&S, membangun merek yang lebih digital di dunia yang tidak akan pernah sama lagi," jelasnya.

(kurs Rp18.700 per poundsterling)


TERKINI