Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki | Foto: Ist

MenkopUKM optimis akan cetak 500 ribu eksportir baru berdaya saing global

28 April 2021

Moneter – Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki mendorong pencetakan 500.000 eksportir baru di Indonesia yang berdaya saing global. 

“Semua pihak harus saling bahu-membahu meningkatkan daya saing UKM untuk berorientasi menembus pasar global dengan sukses dan inovatif,” kata Teten, Selasa (27/4).  

Kata Teten, pihaknya akan memberikan pendampingan kepada UKM potensial ekspor dengan bekerjasama dengan Sekolah Ekspor dalam menyusun kurikulum dan modul pelatihan UKM Ekspor dan memberikan seri pelatihan bagi aparatur pembina dan pelaku UKM ekspor.

“Selain itu dukungan pelatihan dan sertifikasi pendamping UKM Ekspor dilaksanakan bekerjasama dengan Asosiasi Profesi Ekspor Impor Indonesia (Indo-Eximpro) dan Asosiasi Eksportir dan Produsen Hendicraf Indonesia (ASEPHI),” himbau Teten. 

Diketahui, nilai ekspor Indonesia tahun 2020 sebesar US$ 163,31 miliar, mengalami penurunan sebesar 2,61% (yoy) dibandingkan tahun 2019. “Saya optimis neraca perdagangan Indonesia akan surplus US$ 21,74 miliar, dengan sektor yang bertumbuh yaitu pertanian dan industri pengolahan sebagaimana data BPS, Februari 2021 dan statistik Kemendagri 2021,” ucapnya.

UMKM merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia,” paparnya.

Berdasarkan data BPS, sebanyak 64 juta UMKM berkontribusi 60% dari total PDB Indonesia, serta menyerap 97% tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih rendah sebesar 14,37%, masih tertinggal dengan negara – negara APEC yang bahkan dapat mencapai 35%.

Pihaknya mencatat sebanyak 86% pelaku ekspor adalah Usaha Besar. Dan fakta menyebutkan bahwa UKM sulit menembus pasar ekspor, karena berbagai kendala di antaranya minimnya pengetahuan tentang pasar luar negeri, kualitas produk, kapasitas produksi, biaya sertifikasi yang tidak murah, hingga kendala logistik.

“Tantangan UMKM saat pandemi ini adalah kenaikan tarif pengiriman barang hingga 30%-40%, berkurangnya volume ekspor impor sehingga terdapat pengurangan jadwal kapal dan penerbangan internasional,” ungkap Teten. 

Menurutnya, Kementerian Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) terus berkomitmen untuk mendongkrak ekonomi masyarakat milenial dengan mendorong para enterpreuner salah satunya dengan  mewujudkan Desa Preneur  di Kabupaten Karangasem Bali, sebagai pilot project (percontohan) dalam pembangunan perekonomian di daerah, khususnya dalam menggerakkan anak muda untuk membangun desanya. 

“Rasio kewirausahaan di Indonesia memang masih tertinggal dibanding negara  di ASEAN seperti Malaysia,  Singapura dan Thailand, apalagi dibandingkan negara-negara maju. Karena itu jiwa entrepreneurship terus digalakkan untuk meningkatkan rasio kewirausahaan khususnya di kalangan anak muda,” tutup Teten.


TERKINI