PermataBank

PermataBank kantongi laba bersih Rp494 miliar, naik signifikan dari tahun 2020

01 Mei 2021

Moneter.id – PT Bank Permata Tbk (PermataBank) atau BNLI mengantongi laba bersih sebesar Rp494 miliar pada kuartal I/2021. Laba ini meningkat jika dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang Rp2 miliar.

"PermataBank memulai 2021 dengan hasil yang memuaskan. Upaya kami untuk bangkit bersama dan terus memberikan kontribusi positif terhadap pemulihan ekonomi Indonesia telah diwujudkan dengan strategi dalam memperluas skala, memperdalam hubungan dengan nasabah, dan memberikan solusi perbankan yang sesuai dengan kebutuhan nasabah,” kata Plt Direktur Utama PermataBank Abdy Dharma Salimin, Jumat (30/4).

Katanya, bertambahnya kapital PermataBank menunjang semakin kuatnya inisiatif digitalisasi perbankan yang kami berikan bagi nasabah setia PermataBank.

Perseroan, lanjutnya membukukan pertumbuhan total aset sebesar 21,5 persen (yoy) menjadi sebesar Rp203,5 triliun yang mengantarkan perseroan sebagai salah satu 10 bank komersial terbesar di Indonesia berdasarkan total aset.

Pendapatan operasional tercatat sebesar Rp2,4 triliun atau tumbuh sebesar 14,1 persen (yoy) sejalan dengan pertumbuhan aset dan bisnis bank setelah penyelesaian integrasi dengan Bangkok Bank Indonesia pada Desember 2020.

Sementara itu, penyaluran kredit tumbuh 6,6 persen (yoy) menjadi sebesar Rp117,7 triliun terutama didorong oleh pertumbuhan kredit pada segmen wholesale banking sebesar 28,7 persen (yoy) dan kredit KPR 15,5 persen (yoy).

Selain itu, bank tetap menerapkan manajemen biaya operasional secara optimal tercermin dari perbaikan rasio beban operasional dibandingkan pendapatan operasional (BOPO) menjadi sebesar 82,3 persen atau membaik 11,8 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 94 persen.

Rasio pencadangan terhadap NPL terjaga baik di kisaran yang cukup konservatif yaitu 246 persen, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar 152 persen.

Dengan perbaikan kualitas aset yang terjadi selama periode berjalan, jumlah biaya penyisihan penurunan nilai kredit turun sebesar 34 persen menjadi Rp420 miliar pada kuartal I 2021.

Perseroan berhasil menjaga rasio NPL gross dan NPL net masing-masing pada level 2,9 persen dan 1 persen, lebih baik dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu masing-masing pada level 3,2 persen dan 1,2 persen.

"Perbaikan NPL akan terus dicapai dengan adanya restrukturisasi kredit bermasalah, penghapusan kredit, penjualan kredit NPL dan pertumbuhan kredit good book," kata Abdy.

Posisi likuiditas bank terjaga kuat yang tercermin pada rasio loan to deposit ratio (LDR) sebesar 77 persen pada akhir Maret 2021, turun dibandingkan dengan posisi tahun lalu yang sebesar 80 persen.

Hal itu dikontribusikan antara lain oleh peningkatan simpanan nasabah yang tumbuh sebesar 12,2 persen (yoy) dengan rasio CASA sebesar 54 persen, menguat di bandingkan posisi Desember 2020 sebesar 51 persen.

PermataBank juga terus mendorong penerapan digitalisasi dalam transaksi perbankan. Transaksi digital dari semua digital channel terutama PermataMobile X dan PermataNET mengalami pertumbuhan signifikan sebesar dua kali lipat dibandingkan tahun lalu, sedangkan transaksi QR Pay melalui PermataMobile X mengalami pertumbuhan paling tinggi yang mencapai di atas 400 persen.

"Digitalisasi juga diterapkan dalam pelayanan melalui kantor cabang dengan bertambahnya Model Branch sebagai salah satu upaya menghadirkan pengalaman perbankan yang seamless dalam pelayanan offline dan online," kata Abdy.


TERKINI