Foto: Istimewa

Rugi Garuda Indonesia membengkak di 2020

20 Juli 2021

Moneter – Emiten maskapai penerbangan PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) mencatat kerugian di 2020 yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar US$ 2,44 miliar atau membengkak dibandingkan periode sama tahun 2019 yang hanya US$ 38,93 juta.  

“Kondisi keuangan memburuk, terutama akibat pandemi Covid-19 yang diikuti dengan pembatasan perjalanan, sehingga menyebabkan penurunan perjalanan udara yang signifikan, dan berdampak pada operasi dan likuiditas grup,” tulis perseroan diketerangan tertulisnya di Jakarta, Senin (19/7).

Grup juga mengatakan belum dapat memenuhi kewajiban keuangannya kepada bank, vendor yang signifikan, seperti PT Pertamina (Persero) untuk pembelian bahan bakar, PT Angkasa Pura I (Persero) dan PT Angkasa Pura II (Persero) sebagai operator bandara, dan lessor pesawat.

GIAA mencatatkan pendapatan usaha sebesar US$ 1,49 miliar yang ditunjang oleh pendapatan penerbangan berjadwal sebesar US$ 1,2 miliar, pendapatan penerbangan tidak berjadwal US$ 77 juta, dan lini pendapatan lainnya sebesar US$ 214 juta.

Pendapatan tersebut anjlok dibandingkan tahun 2019 yang mencapai US$ 4,57 miliar. Salah satunya karena Garuda Indonesia tidak bisa melakukan penerbangan haji sama sekali pada tahun lalu. Padahal, penerbangan haji memberikan pemasukan US$ 234 juta pada tahun 2019.

Liabilitas jangka pendek grup melebihi aset lancarnya sejumlah US$ 3,8 miliar dan grup mengalami defisiensi ekuitas sebesar US$ 1,9 miliar. Namun, Garuda Indonesia bisa mencatatkan penurunan beban operasional penerbangan sebesar 35,13% menjadi US$ 1,6 miliar dibandingkan tahun 2019 lalu yang sebesar US$ 2,5 miliar.

Hal tersebut turut ditunjang oleh langkah strategis efisiensi biaya, yang salah satunya melalui upaya renegosiasi sewa pesawat maupun efisiensi biaya operasional penunjang lainnya yang saat ini terus dioptimalkan oleh perusahaan.

Saat ini Garuda Indonesia bisa melakukan penghematan beban biaya operasional hingga US$ 15 juta per bulannya. Selain itu, laporan keuangan perseroan sendiri di 2020 mendapatkan penilaian disclaimer atau opini tidak memberi pendapat dari auditor independent.


TERKINI