BRI

Rights issue BRI, targetkan raup Rp95,92 triliun

31 Agustus 2021

Moneter – PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menetapkan harga pelaksanaan penambahan modal dengan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau rights issue sebesar Rp 3.400 per saham. Total dana dan hasil inbreng yang dapat diraih pada aksi korporasi tersebut ditargetkan mencapai Rp 95,92 triliun.

“Perseroan menawarkan sebanyak 28,21 miliar saham seri B atau 18,62% dari modal yang disetorkan atau ditempatkan. Setiap pemegang 1 miliar saham lama berhak atas 230,12 juta HMETD. Dimana satu HMETD berhak untuk membeli satu saham baru dengan harga pelaksanaan Rp 3.400 per saham," tulis manajemen di prospektus yang diterbitkan, Selasa, (31/8).

Total dana yang bisa diraih dari rights issue mencapai Rp 95,92 triliun. Nilai ini berasal dari nilai inbreng atas saham PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) sekitar 54,77 triliun. Selain itu, juga berasal dari perkiraan dana tunai yang bisa diperoleh dari Penawaran Umum Terbatas (PUT) I sekitar Rp 41,15 triliun.

Pemerintah selaku pemegang saham pengendali, yakni dengan kepemilikan 56,75% akan mengeksekusi seluruh haknya dengan melakukan inbreng. Inbreng tersebut adalah 6,24 juta saham Seri B di Pegadaian dan 3,79 juta saham Seri B di PNM. Dengan memperhatikan nilai wajar, maka nilai inbreng saham Pegadaian mencapai Rp 48,67 triliun dan PNM sebesar Rp 6,1 triliun.

Sesuai rencana, dana yang diperoleh dari rights issue akan digunakan untuk mendukung pembentukan holding Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Ultra Mikro (UMi). Dengan pembentukan holding tersebut, BRI berharap bisa menjangkau segmen ultra mikro yang saat ini mencapai 63 juta unit usaha.

"Selain itu, dana dari rights issue akan digunakan untuk modal kerja perseroan, khususnya untuk pembentukan ekosistem ultra mikro," tulis manajemen lagi.

Sebelumnya, BRI mendapatkan persetujuan dari pemegang saham pada 22 Juli 2021. Pernyataan efektif akan diperoleh pada 30 Agustus 2021. Pencatatan saham di Bursa Efek Indonesia (BEI) akan dilakukan pada 13 September 2021. Sementara perdagangan HMETD akan dilakukan pada 13-22 September 2021.

“Aksi korporasi ini akan berdampak kepada laporan keuangan konsolidasian BRI per 31 Maret 2021,” kata Direktur Utama BRI Sunarso.

Katanya, total aset BRI meningkat dari Rp 1.411 triliun menjadi Rp 1.515 triliun. Total liabilitas BRI per Maret 2021 juga meningkat dari Rp 1.216 triliun menjadi Rp 1.289 triliun setelah terbentuknya holding. “Kemudian, laba bersih konsolidasian BRI meningkat dari Rp 7 triliun menjadi Rp 8 triliun,” kata Sunarso.

Edward mengungkapkan, pihaknya menargetkan saham BBRI berpotensi menembus Rp 4.470 dalam satu tahun ke depan. Sementara pada penutupan perdagangan, Senin (30/8), harga saham BBRI berada di level Rp 3.890. 

Rights issue ini juga berpotensi besar mengangkat market cap BRI menuju Rp 600 triliun,” tutup Edward.


TERKINI