Skip to Content

Miliki Utang Rp10,9 Triliun, Merpati Airlines Pailit

Miliki Utang Rp10,9 Triliun, Merpati Airlines Pailit
Merpati Airlines | Foto: Istimewa

Moneter – PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA mencatat berdasarkan laporan audit 2020, kewajiban atau utang PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) mencapai Rp10,9 triliun dengan ekuitas negatif Rp1,9 triliun.

Kata Direktur Utama PPA, Yadi Jaya Ruchandi, Merpati Airlines tercatat memiliki kewajiban sebesar Rp10,9 triliun dengan ekuitas negatif Rp1,9 triliun per laporan audit 2020

“Hingga pembatalan homologasi atau perjanjian perdamaian tidak ada calon investor yang menyatakan diri mampu menyediakan pendanaan untuk Merpati Airlines,” ucapnya, Kamis (9/06/2022). 

Baca juga: Merpati Nusantara Airlines Cari Investor, Siapa Berminat?

Menurutnya, dengan dibatalkannya perjanjian homologasi, maka kewajiban Merpati Airlines kepada pihak ketiga, termasuk pesangon eks karyawan akan diselesaikan dari penjualan seluruh aset perusahaan. 

Proses penjualan aset melalui mekanisme lelang. Langkah ini sesuai dengan penetapan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya dengan memperhatikan keadilan bagi seluruh pihak. Karena itu, seluruh pihak diharapkan dapat menghormati dan mendukung proses hukum yang berlangsung.

Diketahui, Pengadilan Negeri (PN) Surabaya membatalkan perjanjian perdamaian homologasi Nusantara Airlines pada Kamis (2/6/2022). Dengan putusan tersebut, maka Merpati Airlines mendapat payung hukum dan selangkah lebih dekat menuju pembubaran.

Pengadilan telah menunjuk Hakim Pengawas serta Kurator yang akan menjalankan proses kepailitan Merpati Airlines. Hakim Pengawas adalah hakim yang ditunjuk oleh Pengadilan Niaga untuk mengawasi pengurusan dan pemberesan harta debitur oleh Kurator. 

Sedangkan Kurator adalah Balai Harta Peninggalan atau orang perseorangan yang memiliki izin sebagai Kurator yang diangkat oleh pengadilan untuk mengurus dan membereskan harta debitur di bawah pengawasan Hakim Pengawas.

Sebagaimana diketahui, Merpati Airlines sudah tidak beroperasi sejak tahun 2014 dan sertifikat pengoperasian atau Air Operator Certificate (AOC) yang merupakan syarat utama maskapai untuk terbang telah dicabut di tahun 2015. 

Dalam Perjanjian Perdamaian yang disahkan oleh Pengadilan Niaga Surabaya pada tanggal 14 November 2018, disepakati bahwa pembayaran kepada pihak ketiga termasuk penyelesaian pesangon karyawan akan mulai dilakukan setelah Merpati Airlines beroperasi kembali. (IDXChannel)