Skip to Content

Tarif Dasar Listrik 3.500 VA ke Atas Naik Mulai Juli 2022

Tarif Dasar Listrik 3.500 VA ke Atas Naik Mulai Juli 2022
Box listrik | Foto: moneter.id

MONETER – Rida Mulyana selaku Dirjen Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KemenESDM) menyatakan, pemerintah telah mengumumkan penyesuaian tarif dasar listrik untuk golongan rumah tangga mampu mulai 3.500 VA ke atas pada triwulan III 2022 mendatang. Penyesuian tarif ini juga berlaku untuk semua pelanggan Pemerintah (P1, P2, dan P3).

Penyesuaian tarif listrik atau lebih dikenal sebagai tariff adjustment merupakan mekanisme yang sudah diatur dalam Permen ESDM No.28 Tahun 2016 jo Permen ESDM No.3 Tahun 2020. Permen ini mengatur tentang penyesuaian tarif listrik secara otomatis.

"Artinya untuk golongan pelanggan non subsidi (ada 13 golongan) dimungkinkan sesuai aturan tadi untuk diterapkannya automatic adjustment. Automatic di sini artinya PLN sendiri bisa langsung melaksanakannya," kata Rida akhir pekan lalu.

Jelasnya, untuk golongan di bawah itu, tarif listrik tidak dinaikkan. Akibatnya, pemerintah harus menanggung subsidi dan kompensasi listrik yang lebih besar pada 2022. “Tarif baru tersebut akan berlaku mulai Juli 2022,” ucapnya.

Rida menjelaskan, penerapan tariff adjustment dilakukan sesuai mekanisme yakni setiap 3 bulan apabila terjadi perubahaan. Baik peningkatan maupun penurunan faktor yang bersifat uncontrollable seperti kurs, inflasi, ICP dan harga batubara.

“Mekanisme penerapan tariff adjustment ditetapkan oleh Direksi PLN setelah mendapatkan persetujuan menteri. Kemudian, PLN wajib mengumumkan pelaksanaan tariff adjustment kepada konsumen sebelum pelaksanaan tariff adjustment tersebut,” papar Rida.

Menurutnya, penetapan golongan R2 dan R3 dari golongan rumah tangga dikenakan tariff adjustment. Sebab, pihaknya menilai, golongan ini dinilai sebagai golongan mampu.

"Jadi kita fokus untuk 5 golongan yaitu 2 golongan rumah tangga (R2 dan R3) di atas 3.000 VA dan tiga golongan dari pemerintah seperti bisnis besar, industri besar pemerintah dan langganan khsusus. Dari sisi kemampuan daya belinya, kami yakini golongan R2 dan R3 itu masuk golongan mampu," ungkapnya.

Rida menambahkan, penyesuaian tarif listrik ini terjadi karena 4 faktor. Antara lain, disebutkannya, mengacu pada melemahnya mata uang rupiah terhadap dollar AS, melonjaknya harga minyak dunia yang menembus di atas 100 dollar Amerika per barel dan inflasi serta harga patokan batubara yang terus naik.

"Selain 4 faktor tadi, terutama untuk IPC (Indonesian Crude Price) yang banyak berpengaruh pada Biaya Pokok Penyediaan (BPP) yang menjadi dasar perhitungan tariff adjustment yang berlaku di PLN dan masih banyak lagi faktor lainnya seperti pemulihan Covid-19 dan lain-lain," ungkapnya.

Diketahui, jumlah pelanggan aktif PLN saat ini mencapai 82,2 juta. Dari total tersebut, merupakan pelanggan kategori rumah tangga dengan beragam golongan. Mulai dari R1 hingga R3.

Adapun R1 dibagi menjadi pelanggan subsidi dan non-subsidi. Adapun pelanggan kategori rumah tangga golongan R2 yakni 3.500 VA sampai 5.500 VA, jumlah hanya mencapai 1,7 juta. Sementara pelanggan golongan R3 di atas 6.600 VA ke atas hanya sekitar 300 ribu pelanggan.

"Kalau untuk masyarakat yang tidak mampu itu, kita memberikan subsidi dan pemerintah memberikan kompensasi sebagai gantinya kepada PLN," kata Direktur Niaga dan Manajemen Pelanggan PLN Bob Saril.