Moneter.co.id – Industri
makanan dan minuman (mamin) diproyeksikan masih menjadi salah satu andalan
penopang pertumbuhan manufaktur dan ekonomi nasional pada tahun 2018. Peran penting
sektor strategis ini terlihat dari kontribusinya
yang konsisten dan signfikan terhadap produk domestik bruto (PDB) industri non-migas
serta peningkatan realisasi investasi.
“Untuk itu,
pemerintah terus berupaya menjaga ketersediaan bahan baku yang dibutuhkan
industri makanan dan minuman agar semakin produktif dan berdaya saing global.
Apalagi, sektor ini basisnya nilai tambah sehingga proses hilirisasi perlu
dijamin,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada acara Coca-Cola
Amatil Investor Day di Jakarta, Kamis malam (23/11).
Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) mencatat, sumbangan industri makanan dan minuman
kepada PDB industri non-migas mencapai 34,95 persen pada triwulan III tahun
2017. Hasil kinerja ini menjadikan sektor tersebut kontributor PDB industri
terbesar dibanding subsektor lainnya.
Selain itu,
capaian tersebut mengalami kenaikan empat
persen dibanding periode yang sama tahun 2016. Sedangkan, kontribusinya terhadap PDB
nasional sebesar 6,21
persen pada triwulan
III/2017 atau naik 3,85 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Selanjutnya, dilihat dari perkembangan realisasi
investasi,
sektor industri makanan dan minuman untuk penanaman modal dalam negeri (PMDN) triwulan III/2017 mencapai Rp27,92 triliun atau meningkat
sebesar 16,3 persen
dibanding periode yang sama tahun 2016. Sedangkan,
untuk penanaman modal asing (PMA) sebesar USD1,46 miliar.
Untuk itu,
Menperin memberikan apresiasi kepada Coca-Cola Amatil Indonesia sebagai pelopor
dalam industri minuman ringan di Indonesia yang produknya telah dipasarkan
secara langsung kepada lebih dari 500 ribu pelanggan ritel baik di daerah
perkotaan maupun pedesaan.
Hingga saat
ini, Coca-Cola Amatil Indonesia telah menyerap tenaga kerja sebanyak 11 ribu
orang, dengan nilai investasi selama lima tahun terakhir (2012-2017) mencapai
USD445 juta. Perusahaan
ini juga berkomitmen akan meningkatkan investasi hingga USD300 juta untuk tiga tahun ke depan.
Guna menjaga
pertumbuhan sektor ini tetap tinggi, menurut Menperin, pihaknya terus mendorong
pelaku industri makanan dan minuman nasional agar memanfaatkan potensi pasar dalam negeri. “Indonesia dengan memiliki jumlah penduduk sebanyak 258,7
juta orang, menjadi pangsa pasar yang sangat menjanjikan,” tuturnya.
Di samping
itu, industri makanan dan minuman nasional semakin kompetitif karena jumlahnya
cukup banyak. Tidak hanya meliputi perusahaan skala besar, tetapi juga telah menjangkau
di tingkat kabupaten untuk kelas industri kecil dan menengah (IKM). “Bahkan,
sebagian besar dari mereka sudah ada yang go
international,” ungkap Airlangga.
Menperin menyatakan,
pihaknya tengah memacu kinerja industri padat karya berorientasi ekspor. Untuk
itu, Kemenperin mengusulkan penghitungan insentif fiskal berupa tax allowance berbasis pada jumlah
penyerapan tenaga kerja. “Regulasi ini sedang dibahas dengan Kementerian
Keuangan, kami berharap tahun ini peraturannya bisa keluar,” tegasnya.
Pacu inovasi
Menperin
menyampaikan, industri makanan dan minuman nasional saat ini perlu terus melakukan
upaya-upaya strategis untuk semakin memacu daya saingnya agar mampu berkompetisi
di tingkat global.
Langkah yang
perlu dijalankan, antara lain peningkatan mutu dan produktivitas serta
efisiensi di seluruh rantai
nilai produksi. Selain
itu, sejalan dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia serta kegiatan
penelitian dan pengembangan di sektor tersebut.
“Pemerintah
telah berkomitmen dalam menyiapkan tenaga kerja yang terampil melalui
penyusunan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI), pengembangan
lembaga pendidikan dan pelatihan vokasi,
serta program pembinaan dan pengembangan SMK berbasis kompetensi yang link and match dengan industri,” papar
Airlangga.
Menperin
menambahkan, pihaknya juga tengah memfokuskan pengembangan industri makanan dan
minuman nasional melalui penerapan standar keamanan dan menciptakan inovasi
produk, terutama dalam menghadapi era ekonomi digital. “Dengan upaya ini, kami
berharap dapat memperluas pasar, tidak hanya domestik, tetapi juga ke negara
tujuan ekspor,” ujarnya.
Oleh karena
itu, Kementerian Perindustrian dan otoritas keamanan pangan Singapura telah
sepakat untuk menyusun standar keamanan dan inovasi agar bisa mendongkrak
nilai ekspor produk makanan dan minuman nasional.
“Saya telah
berdiskusi dengan PM Singapura, kita akan bekerja sama membangun standar yang
sama. Mereka mendukung kita untuk mengekspor lebih banyak produk makanan dan
minuman. Ada berbagai macam yang akan diatur mulai dari daya tahan makanan
sampai inovasi pengemasan,” jelas Airlangga.
Standar baku
untuk inovasi dan keamanan pangan tersebut ditargetkan dapat segera dirilis
pada tahun depan. “Indonesia menggandeng Singapura untuk penyusunan dokumen
tersebut karena negara itu memiliki pasar ekspor yang luas, sedangkan Indonesia
memiliki produk makanan dan minuman dengan economic
of scale yang lebih tinggi sehingga lebih efisien,” kata Menperin.
Menperin
menambahkan, pemerintah tengah mengkaji mengenai pemberian insentif untuk
kegiatan penelitian dan pengembangan di bidang industri guna meningkatkan
jumlah inovasi. “Ke depan, inovasi di Indonesia nilai tambahnya akan
tinggi,” terangnya.
Saat ini indeks global untuk bidang riset dan inovasi industri di
Indonesia masih berada di posisi ke-80 dari seluruh negara di dunia. Berbeda
dengan capaian indeks kemudahan berinvestasi di Indonesia yang melompat hampir
40 peringkat dalam waktu dua tahun dari urutan ke-110 menjadi posisi ke-72.
Airlangga mencontohkan kebijakan inovasi yang dilakukan oleh Thailand, dengan
berani memberikan insentif kepada industri hingga 300 persen. Oleh
karena itu, pemerintah Indonesia tengah mendorong perekonomian nasional yang
diperkuat dengan inovasi dan pendidikan vokasi industri. “Karena inovasi dan pendidikan vokasi adalah dua hal yang bisa
meningkatkan daya saing Indonesia,” tegasnya.




