Kamis, Januari 15, 2026

Pemerintah Dorong Transformasi Ekonomi Berbasis Manufaktur

Must Read

Moneter.co.id – Pemerintah
saat
ini
tengah fokus
mengembangkan industri pengolahan nonmigas yang menitikberatkan pada pendekatan
rantai pasok agar lebih berdaya saing di tingkat domestik, regional, dan
global. Manufaktur dinilai menjadi salah satu sektor unggulan dalam mendorong
akselerasi pembangunan dan pemerataan ekonomi nasional.

“Pengembangan
industri manufaktur nonmigas diprioritaskan pada sektor yang berbasis sumber
daya alam dan menyerap lapangan kerja yang besar seperti industri kimia dasar
dan industri logam,” kata Presiden Joko Widodo
(Jokowi) saat menyampaikan keynote speech pada acara Sarasehan
Kedua 100 Ekonom Indonesia di Jakarta, Selasa (12/12).

 

Jokowi
memandang, saat ini penting sekali melakukan transformasi ekonomi, yang
menggeser ekonomi berbasis konsumsi menjadi berbasis manufaktur. Sehingga lebih
produktif dan memberikan efek berganda yang lebih besar.

 

“Jadi,
yang berbasis manufaktur, menjadi kunci. Karena itu, jangan sampai kita terus
mengeskpor sumber daya alam mentah kita tanpa pengolahan,” tegasnya.

 

Presiden
juga menyampaikan, kebijakan ekonomi Indonesia harus terus diarahkan untuk
pembangunan ekonomi yang lebih inklusif dan berkualitas. Tujuannya adalah
mengurangi kemiskinan, mengurangi ketimpangan, dan meningkatkan lapangan kerja
yang sebanyak-banyaknya.

 

Sebelumnya,
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution berpendapat hilirisasi
industri merupakan salah satu upaya strategis untuk menahan pesatnya laju
pertumbuhan impor yang dapat menyebabkan pelebaran defisit transaksi berjalan (current account deficit).
Hal tersebut diungkapkan saat memberi pidato kunci pada Seminar Nasional
Outlook Industri 2018 di Jakarta, kemarin.

 

“Pertumbuhan
ekonomi tinggi, tapi overheated, karena
pertumbuhan impor jauh lebih cepatBertolak
dari pengalaman dahulu, pemerintah saat ini melihat tiga sektor hulu industri
yang mesti mulai dikembangkan, agar impor tidak melonjak saat pertumbuhan
ekonomi naik,”
kata Menko Darmin.

 

Darmin
menyatakan, pemerintah tengah memfokuskan program hilirisasi pada tiga kelompok
industri pengolahan. Tiga sektor tersebut adalah industri besi dan baja,
petrokimia, dan kimia dasar. “Ketiganya itu punya banyak sekali produk turunan
yang dibutuhkan berbagai sektor lain,” ujarnya.

 

Sementara, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto menegaskan, potensi dan
peluang untuk mengakselerasi pertumbuhan industri perlu dimanfaatkan secara
optimal agar Indonesia dapat mencapai pertumbuhan ekonomi yang semakin
berkualitas dan berkesinambungan. “Optimisme
dunia usaha dan konsumen dapat menjadi peluang dan kesempatan dalam memacu
pertumbuhan industri nasional,” ujarnya.

 

Oleh karena itu,
Kementerian Perindustrian bersama pemangku kepentingan terkait bersinergi
untuk meningkatkan daya saing
dan daya tarik investasi di sektor industri
, antara lain melalui penciptaan
iklim usaha yang kondusif dan kepastian hukum,
penggunaan
teknologi terkini untuk mendorong peningkatan mutu,
efisiensi dan
produktivitas, serta
pemberian
fasilitas berupa insentif fiskal
.

 

Selanjutnya, didukung dengan ketersediaan bahan baku,
harga energi yang kompetitif, sumber daya manusia (SDM) kompeten,
serta
kemudahan akses pasar dan pembiayaan.

 

“Pertumbuhan
konsumsi juga perlu dijaga dan kembali ditingkatkan agar permintaan terhadap
produk-produk industri semakin meningkat.
Selain itu, stimulus fiskal dari dana
desa dan belanja pemerintah terus kita dukung, sehingga meningkatkan
kesejahteraan masyarakat
,” ujarnya.

 

Kemenperin
telah menargetkan pertumbuhan industri pengolahan non-migas pada tahun 2018
sebesar 5,67 persen. Capaian ini akan dipacu oleh semua subsektor terutama
industri
logam dasar, makanan dan minuman, alat
angkutan, mesin dan perlengkapan,
farmasi,
kimia, serta elektronika. Selain itu didukung pula pembangunan kawasan industri
di berbagai daerah di Indonesia.

 

Pada
triwulan III
/2017,
pertumbuhan industri pengolahan non-migas Indonesia mencapai 5,49 persen atau
lebih tinggi dari pertumbuhan ekonomi nasional sebesar 5,06 persen. Cabang
industri yang menopang kinerja manufaktur tersebut, antara lain industri logam
dasar yang tumbuh 10,6 persen, diikuti industri makanan dan minuman 9,49
persen, industri mesin dan perlengkapan 6,35 persen, serta industri alat
transportasi 5,63 persen.

 

“Industri
masih menjadi kontributor terbesar bagi perekonomian nasional. Pada kuartal
tiga tahun ini, menyumbang sebesar
17,76 persen atau tertinggi
dibanding sektor lainnya,” ungkap Menteri Airlangga.

 

Kinerja
penyerapan tenaga kerja di sektor Industri pun menunjukkan peningkatan, dari
15,54 juta orang tahun 2016 menjadi 17,01 juta orang pada 2017.

 

Sementara
itu, di mata internasional, Indonesia dipandang sebagai salah satu negara
industri terbesar di dunia. Menurut United Nations Industrial Development
Organization (UNIDO), Indonesia menempati posisi ke-9 dunia sebagai negara
penghasil nilai tambah terbesar dari sektor industri.

Selain itu, apabila dilihat dari persentase kontribusi
industri, Indonesia masuk dalam peringkat empat besar dunia. Indonesia juga
mengalami peningkatan pada Global Competitiveness Index, yang saat ini
mengalami kenaikan di posisi ke-36 dari sebelumnya peringkat ke-41.
(HAP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ubah Mood Swing Jadi Mood Sweet, Fres & Natural Tambah Koleksi Baru Cologne dengan Wangi Dessert

Merek perawatan diri dari WINGS Care, Fres & Natural memperkuat deretan inovasi produk dengan meluncurkan varian terbaru Fres &...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img