Moneter.co.id – Kementerian
Perindustrian mendorong pondok pesantren memanfaatkan perkembangan teknologi
digital saat ini, salah satunya melalui penggunaan aplikasi Financial
Technology (Fintech).
Dirjen
IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih
mengatakan, bahwa upaya ini diharapkan mampu menumbuhkan semangat santri untuk
berwirausaha atau santripreneur
terutama dalam skala industri kecil dan menengah (IKM).
“Ini
merupakan komitmen bersama untuk membangun bangsa khususnya di lembaga
pendidikan pondok pesantren dengan meluncurkan aplikasi mobile karya anak
bangsa sebagai
produk asli dalam negeri dengan nama Mobile
Fintech and Commerce Nurul Iman,” katanya
di Pondok Pesantren Al Ashriyyah Nurul Iman, Bogor, Minggu (14/01).
Menurut Gati, kegiatan ini terlaksana atas kerja sama
Kemenperin dengan
PT. Data Aksara Matra sebagai penyedia aplikasi teknologi dan PT. Bank Tabungan Negara,
Tbk. divisi syariah selaku
penyedia layanan jasa perbankan. “Selain memberikan kemudahan dan keamanan kepada para santri dalam bertransaksi, penerapan
Fintech ini diharapkan pula membawa efek positif bagi perekonomian nasional,”
tuturnya.
Berdasarkan
data Bank Indonesia (BI) pada tahun 2017,
transaksi keuangan melalui Fintech mencapai Rp249 triliun atau meningkat 24% dibandingkan tahun 2016. Gati pun menjelaskan, melalui aplikasi Fintech
tersebut, para
santri, wali santri, dan mitra bisnis dapat memanfaatkan beragam fitur seperti
pembelian dan pembayaran produk pondok pesantren yang memudahkan pengguna dalam
mentransfer uang ke akun rekening virtual pondok pesantren atau santri.
“Para santri Pondok Pesantren
Al Ashriyyah Nurul Iman juga akan diberikan Kartu Pesantren Industri dengan
nama Kartu Santri Nurul Iman, yakni
kartu pintar yang multi fungsi. Dengan sistem ini, para santri akan dipermudah dalam
bertransaksi belanja di toko ataupun koperasi pesantren untuk memenuhi segala
kebutuhannya,” paparnya.
Selain
itu, Kartu Pesantren Industri bisa digunakan sebagai kartu tabungan, kartu identitas, dan kartu absensi untuk santri. “Tentunya, dengan sistem ini, keamanan santri dalam
bertransaksi akan terjaga dan transparan serta akan mempermudah dalam mengelola
sistem pendataan database di pesantren,” ungkap
Gati.
Gati
menambahkan, dengan penggunaan aplikasi Mobile Fintech and
Commerce serta
Kartu Santri Nurul Iman ini,
rotasi uang dan keuntungannya dapat digunakan untuk mendukung
biaya operasional di pondok pesantren seperti pembayaran listrik, kesehatan santri,
operasional pendidikan, pengembangan industri dan wirausaha, serta kebutuhan
lainnya.
Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto
menyampaikan, pondok
pesantren berpotensi besar menciptakan wirausaha industri baru khususnya yang bergelut di sektor IKM. Untuk itu, Kemenperin gencar melaksanakan program
Santripreneur sebagai salah satu upaya pengoptimalan dalam penyediaan lapangan
kerja di daerah atau desa sekaligus mengurangi tingkat pengangguran dan
mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat.
“Program ini
bertujuan menumbuhkan jiwa wirausaha di kalangan santri pondok pesantren. Oleh karenanya, kami terus memfasilitasi
melalui pemberian alat dan mesin sebagai sarana para santi belajar kemandirian sebelum terjun ke
masyarakat,” tegasnya.
Sebagai
proyek
percontohan di
tahun 2017, Santripreneur telah dilaksanakan di Provinsi Jawa Timur, tepatnya di Pondok Pesantren Sunan
Drajat, Kabupaten Lamongan dan Pondok
Pesantren Lirboyo, Kediri. Proram yang
dijalankan, misalnya
dalam pelaksanaan bimbingan teknis pengolahan ikan dan pembuatan alas kaki serta pembuatan lampu LED dan revitalisasi
industri garam.
(TOP)




