Moneter.co.id – Menteri
Perdagangan (Mendag) RI Enggartiasto Lukita melakukan pertemuan bilateral
dengan Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia, Stephen Ciobo
untuk membahas perkembangan perundingan Indonesia–Australia Comprehensive
Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) dan perundingan Regional Comprehensive
Economic Partnership (RCEP) di Sydney International Convention Center,
Australia, Jumat (16/3).
Khusus
perundingan IA-CEPA yang telah melalui 11 putaran perundingan penuh dan
beberapa perundingan intersesi, Menteri Ciobo menegaskan komitmen Australia
untuk menyelesaikan perundingan antara dua ekonomi terbesar di Asia Tenggara
dalam tahun ini.
“Saya menyambut
baik keinginan Australia menyelesaikan perundingan CEPA ini karena Indonesia pun
memiliki komitmen yang sama,” kata Mendag Enggar disiaran resmi yang diterima
MONETER.co.id, Sabtu (17/3).
Hal ini, lanjut
Enggar ditunjukkan dengan kunjungan Tim Perunding Indonesia ke Sydney beberapa
hari lalu untuk mencari titik temu pada beberapa isu yang menyebabkan
tertundanya penyelesaian perundingan pada akhir tahun 2017 sebagaimana
diamanatkan oleh pimpinan kedua negara.
“Penyelesaian
perundingan CEPA memang tertunda meskipun kedua pihak telah mengintensifkan
perundingan di semua tingkatan menjelang akhir tahun 2017,” ucap Mendag.
Setelah melakukan
refleksi untuk mengkaji dengan jernih perbedaan posisi yang ada, kata Enggar, kedua
tim perunding melakukan konsultasi pada 6-7 Maret 2018 lalu di Sydney. Dari
pertemuan ini, kedua tim perunding mengidentifikasi sejumlah isu yang akan
dirundingkan kembali dalam waktu dekat.
Dalam pertemuan
di Sydney kali ini, kedua Menteri menekankan perlunya sebuah paket kesepakatan
yang dapat diterima baik oleh pemangku kepentingan Indonesia maupun pemangku
kepentingan Australia.
“Kita ingin
sebuah perjanjian yang diterima baik oleh pemangku kepentingan kita. Demikian
pula Australia ingin mendapatkan sebuah perjanjian yang dapat diterima baik
oleh pemangku kepentingannya,” katanya.
Perbedaan
tingkat pembangunan kedua negara menyebabkan adanya perbedaan. Apa yang dapat
diterima oleh Indonesia belum tentu dapat diterima Australia, dan sebaliknya. “Inilah
gap atau jurang yang akan kita coba
jembatani,” imbuh Enggar.
Kedua Menteri
juga membicarakan status perundingan 16 negara untuk menyepakati Perjanjian
RCEP yang telah melalui 21 putaran. Sebagai koordinator ASEAN dalam perundingan
ini sekaligus Ketua Komite Perundingan RCEP sejak diluncurkan pada November
2012, Indonesia menyampaikan pesan kepada Australia agar bekerja sama dengan
ASEAN dan mitra runding RCEP lainnya menemukan landing zones yang pragmatis dan
realistis.
“Sebagai Ketua
Komite Perundingan, kita melihat betapa lebar perbedaan ambisi di antara negara
peserta RCEP, khususnya antara ASEAN, China, dan India dengan mitra negara maju
ASEAN dalam perundingan ini yakni Australia, Korea Selatan, Jepang, dan
Selandia Baru. Saya berpesan agar semua negara melakukan rekalibrasi ke atas
dan ke bawah untuk bertemu pada titik yang dapat disepakati semua,” jelas
Enggar.
Sementara, Menteri
Ciobo menyatakan penghargaan Australia kepada Indonesia yang dengan tekun terus
memimpin perundingan yang rumit ini. Tidak ada satu negara pun di dunia yang
memiliki pengalaman untuk mengelola konsolidasi lima Free Trade Agreement (FTA)
regional menjadi satu, seperti yang dilakukan dengan RCEP ini.
“Australia
sepakat bahwa RCEP memiliki potensi ekonomi yang luar biasa dan dapat menjadi
mesin pendorong pertumbuhan perdagangan dan ekonomi dunia yang sangat
signifikan,” ucap Ciobo.
Dalam hal ini,
Menteri Enggar mengingatkan rekannya mengenai perlunya keseimbangan yang wajar
antara tingkat ambisi integrasi ekonomi 16 negara dan sensitivitas serta
tantangan pembangunan yang dihadapi negara berkembang dan negara kurang
berkembang dalam perundingan RCEP ini.
(TOP)




