Selasa, April 21, 2026

Terbitkan Perpres 2/2018, Pemerintah Era Jokowi Serius Pacu Industri Manufaktur

Must Read

Moneter.co.id – Pemerintahan Presiden
Joko Widodo (Jokowi) semakin serius mendorong pertumbuhan sektor manufaktur di
Tanah Air. Komitmen ini diwujudkan melalui penerbitan Peraturan Presiden Nomor
2 tahun 2018 tentang Kebijakan Industri Nasional 2015-2019.

“Jadi, kita
punya arahan jelas ke depan dalam pengembangan industri agar lebih berdaya
saing global. Dalam hal ini, pemerintah terus menciptakan iklim investasi yang
kondusif serta memberi kemudahan bagi para pelaku usaha untuk menjalankan bisnisnya
di Indonesia,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Kamis
(22/3).

Kebijakan
tersebut menjadi panduan bagi pemerintah untuk pembangunan industri nasional
jangka panjang sesuai Rencana Induk Pembangunan Industri Nasional (RIPIN)
2015-2035. Sasaran dari regulasi ini, antara lain adalah
fokus
pengembangan industri, tahapan capaian pembangunan industri, dan pengembangan
sumber daya industri.

Selanjutnya, pengembangan sarana dan prasarana industri, pemberdayaan
industri, pengembangan industri prioritas serta industri kecil dan menengah,
pengembangan perwilayahan industri, serta

fasilitas
fiskal dan nonfiskal. “Dalam menyusun regulasi, kami selalu mendengarkan
masukan dari para pelaku industri nasional,” ungkap Airlangga.

Adapun, beberapa
tujuan yang ditetapkan di beleid itu hingga tahun 2019, di antaranya
meningkatkan laju pertumbuhan industri pengolahan nonmigas sebesar 5,5-6,2%.
Peran industri manufaktur dalam perekonomian ditargetkan bisa berkontribusi
sebesar 18,2-19,4%. Selain itu, upaya peningkatkan ekspor produk industri dalam
negeri.

Melalui Perpres
tersebut, pemerintah juga menetapkan sektor-sektor industri yang menjadi
andalan masa depan, terdiri dari industri pangan, industri farmasi, kosmetik
dan alat kesehatan, industri tekstil, kulit, alas kaki, dan aneka, industri
alat transportasi, industri elektronika dan telematika, serta industri
pembangkit energi.

Menperin
menegaskan, aktivitas industri manufaktur konsisten memberikan efek berantai
yang luas bagi perekonomian nasional, misalnya meningkatkan nilai tambah bahan
baku dalam negeri, menyerap banyak tenaga kerja, menghasilkan devisa dari
ekspor, serta penyumbang terbesar dari pajak dan cukai.

Oleh karenanya,
Kementerian Perindustrian bertekad menjalankan program hilirisasi industri.
“Jadi, jangan sampai kita terus mengekspor sumber daya alam mentah kita tanpa
ada pengolahan,” ujarnya.
Penghiliran yang telah menunjukkan hasil
signifikan, meliputi produk berbasis agro dan tambang mineral seperti turunan
kelapa sawit, stainless steel, hingga
produk smartphone.

Apabila dilihat
dari sisi pertumbuhan manufacturing value
added
(MVA), Indonesia menempati posisi tertinggi di antara negara-negara
di ASEAN. MVA Indonesia mampu mencapai 4,84%, sedangkan di ASEAN berkisar 4,5%.
D
i tingkat global, Indonesia saat ini berada di peringkat
ke-9 dunia.

“Dari sektor
manufaktur, Indonesia secara persentase untuk kontribusinya terhadap PDB, masuk
dalam jajaran lima besar dunia. Mengungguli Jepang, India, dan Amerika Serikat.
Bahkan
ekonomi Indonesia sudah masuk dalam one
trillion dollar club
, atau sepertiga dari ekonominya
ASEAN
,” imbuhnya.

 

(TOP)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Faktor-faktor Penting untuk Meningkatkan Ranking Website

Dalam dunia digital marketing, search engine optimization (SEO) menjadi kunci utama untuk meningkatkan visibilitas website di mesin pencari. Namun,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img