Moneter.co.id – Kementerian
Perindustrian (Kemenperin) terus aktif mendorong peningkatan nilai investasi
dan ekspor terutama di sektor manufaktur. Upaya ini diyakini mampu memacu
pertumbuhan ekonomi nasional serta membawa efek positif yang luas guna
menciptakan pemerataan pembangunan dan kesejahteraan masyarakat.
“Selama ini,
industri menjadi penggerak utama dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi
nasional, sekaligus berperan sebagai tulang punggung bagi ketahanan ekonomi
nasional dengan berbasis sumber daya lokal,” kata Menteri Perindustrian
Airlangga Hartarto di Jakarta, Sabtu (26/5).
Menperin menyampaikan, pihaknya gencar menarik para investor
industri dalam dan luar negeri agar menambah penanaman modalnya di Indonesia,
baik itu bentuk investasi baru maupun perluasan usaha atau ekspansi. “Investasi
ini kami harapkan dapat memperkuat struktur industri di Tanah Air dan bisa
menjadi substitusi bahan baku impor,” jelasnya.
Melalui penanaman modal
tersebut, manufaktur juga membawa multiplier
effect pada perekonomian nasional seperti penyerapan tenaga kerja,
peningkatan nilai tambah bahan baku dalam negeri, dan penerimaan negara dari
ekspor. “Maka itu, kami fokus pada program hilirisasi industri,” imbuhnya,
Kemenperin
mencatat, investasi sektor industri manufaktur sepanjang kuartal I/2018
mencapai Rp62,7 triliun. Realisasi ini terdiri dari penanaman modal dalam
negeri (PMDN) senilai Rp21,4 triliun dan penanaman modal asing (PMA) sebesar
USD3,1 miliar. Sektor industri logam, mesin, dan elektronik menjadi
penyumbang terbesar dengan nilai investasi mencapai Rp22,7 triliun.
Sementara itu,
rata-rata pertumbuhan investasi di sektor industri pada periode tahun
2011-2017, untuk PMA tumbuh hingga 19,2%, sementara PMDN tumbuh sebesar 17,1%.
“Rata-rata kontribusi investasi (PMA dan PMDN) di sektor industri selama enam
tahun belakangan tersebut, mencapai 45,8% dari total nilai investasi di
Indonesia,” ungkap Airlangga.
Menurut
Menperin, upaya menarik minat investasi asing
menjadi salah satu dari 10 langkah prioritas nasional dalam memasuki era
revolusi industri keempat sesuai peta jalan Making Indonesia 4.0. Hal ini dapat
mendorong
transfer teknologi kepada perusahaan lokal.
“Untuk meningkatkan investasi, Indonesia akan secara aktif
melibatkan perusahaan manufaktur global, memilih 100 perusahaan manufaktur
teratas dunia sebagai kandidat utama dan menawarkan insentif yang menarik, dan
berdialog dengan pemerintah asing untuk kolaborasi tingkat nasional,” paparnya.
Guna menggenjot
investasi di sektor industri, beberapa strategi yang telah dilakukan adalah
melakukan optimalisasi pemanfaatan fasilitas fiskal seperti tax holiday, tax allowance,
dan pembebasan bea masuk impor barang modal atau bahan baku.
Kemenperin pun
telah mengusulkan kepada Kementerian Keuangan mengenai terobosan fasilitas
insentif baru bagi kegiatan investasi dalam bentuk super deductible tax untuk industri yang melakukan kegiatan litbang
dan vokasi serta pengurangan PPh bagi industri padat karya yang mampu menyerap
lebih dari 1000 orang.
“Dan, yang juga
terpenting dalam upaya meningkatkan investasi adalah pemerintah fokus
menciptakan iklim usaha yang kondusif serta memberi kemudahan terhadap
perizinan usaha,” tutur Airlangga. Hal ini sejalan amanat Peraturan Presiden
No. 91 Tahun 2017 tentang Percepatan Pelaksanaan Berusaha.
Lebih lanjut,
Menperin mengatakan, pihaknya juga terus mendorong peningkatan kapasitas
produksi serta akses kemudahan dalam upaya memperluas pasar produk industri,
baik di pasar domestik maupun ekspor. “Jika pasarnya optimal, produksinya juga
bisa lebih maksimal,” tegasnya.
Pada kuartal
I/2018, industri manufaktur mencatatkan nilai ekspor sebesar USD32 miliar atau
naik 4,5% dibanding capaian pada periode yang sama tahun lalu di angka USD30,6
miliar. Adapun tiga sektor manufaktur dengan nilai
ekspor terbesar pada kuartal I/2018, yaitu
industri makanan yang mencapai USD7,42
miliar, industri logam dasar USD3,68 miliar, serta industri bahan kimia dan
barang dari bahan kimia USD3,25 miliar.
“Saat ini,
negara tujuan ekspor utama kita antara lain adalah Amerika Serikat, Tiongkok,
Jepang, India, dan Singapura,” ungkap Airlangga.
(TOP)




