Moneter.id – Pemerintah
Indonesia telah menetapkan targetnya untuk masuk dalam jajaran 10 negara dengan
perekonomian terbesar di dunia tahun 2030. Hal ini sesuai dengan salah satu
aspirasi nasional yang terdapat pada peta jalan Making Indonesia 4.0 sebagai
strategi mengimplementasikan revolusi industri generasi keempat.
“Pada
4 April lalu, Bapak Presiden Joko Widodo telah me-launching roadmap
tersebut. Ini sekaligus menjadi agenda nasional yang perlu dijalankan secara
bersinergi,” kata Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto di Jakarta, Senin
(11/06).
Untuk
itu, kata Airlangga, Kementerian Perindustrian sebagai leading sector akan berkolaborasi dengan kementerian dan lembaga,
pemerintah daerah, serta pelaku industri untuk melaksanakan bersama program
strategis ini sesuai tugas dan fungsi masing-masing. Tujuannya adalah untuk
kesuksesan dan kemajuan bangsa Indonesia.
“Guna
merealisasikan hal tersebut, memang tidak cukup dengan mengandalkan pertumbuhan
ekonomi secara organik, namun diperlukan terobosan di bidang industri dengan
memanfaatkan perkembangan teknologi terkini,” papar Airlangga.
Adapun lima
teknologi utama yang menopang implementasi industri 4.0, yaitu Internet of
Things, Artificial Intelligence, Human–Machine Interface, teknologi robotik dan
sensor, serta teknologi 3D Printing. “Penguasaan teknologi menjadi kunci
penentu daya saingnya,” tegas Menperin.
Sebagai
konseptor Making Indonesia 4.0, Menteri Airlangga menyatakan, revolusi industri
4.0 akan merombak alur produksi industri konvensional dengan cara yang tidak
biasa. Kendati demikian, bakal terjadi sebuah peningkatan produktivitas dan
kualitas secara efisien.
“Dalam
konsepsinya, kami akan merevitalisasi industri manufaktur nasional. Ini lebih
cepat dibandingkan evolusi perekonomian Indonesia dari yang sebelumnya
mengandalkan sumber daya alam (migas dan pertambangan), menjadi ekonomi
berbasis manufaktur yang memberikan nilai tambah tinggi,” jelasnya.
Lebih
lanjut, Menperin mengungkapkan, implementasi industri 4.0 di Indonesia diyakini
bisa membawa pertumbuhan ekonomi nasional secara inklusif yang melibatkan
seluruh lapisan masyarakat. Pasalnya, era ekonomi digital juga menyasar pada
sektor usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).
“Di samping itu, sesuai aspirasi
Making Indonesia 4.0, kita akan mengembalikan kontribusi nilai ekspor sebesar
10 persen dari PDB nasional,” ungkapnya.
Selain itu, lanjut Airlangga, mewujudkan
pembukaan lapangan kerja baru sebanyak 10 juta orang pada tahun 2030.
Selama
ini, ekspor dari sektor industri memberikan kontribusi yang besar bagi
perekonomian nasional. Pada tahun 2017, industri menyumbang sebesar 74,10%
dalam struktur ekspor Indonesia dengan nilai mencapai USD125,02 miliar, naik 13,14%
dibanding 2016 sekitar USD109,76 miliar
“Sementara,
dengan penggunaan teknologi berbasis internet, muncul permintaan
jenis pekerjaan baru yang cukup banyak, seperti pengelola dan analis data
digital, serta profesi yang dapat mengoperasikan teknologi robot untuk proses
produksi di industri,” sebutnya.
(TOP)




