Jumat, Mei 8, 2026

Asosiasi Sepak Bola China Batasi Gaji Pemain Lokal Rp21 Miliar per Tahun

Must Read

Moneter.id – Asosiasi Sepak Bola China (CFA) mengeluarkan aturan
pembatasan gaji pemain lokal paling tinggi sebesar 10 juta RMB atau
setara Rp21 miliar per tahun.

Berdasarkan laporan
CCTV5, siaran televisi olahraga terpopuler di China, Jumat
(21/12) dijelaskan, jika klub atau tim yang melanggar aturan yang dikenal dengan
istilah kontrak “yin-yang” tersebut, maka CFA akan mencoret klub atau
tim yang bersangkutan. 
Aturan tegas tersebut
bagian dari upaya CFA membatasi pengeluaran keuangan tim sepak bola setempat
,” sebutnya.

Dalam regulasi tersebut juga terdapat pembatasan bonus dan insentif
lainnya kepada para pemain lokal. 
Namun para pemain asing yang akan berlaga pada musim kompetisi baru Liga
Super China (CSL) mulai musim semi nanti tidak terkena dampak regulasi pembatasan
gaji atau salary cap itu.

Kebijakan lain adalah setiap tim harus menandatangani kontrak bersama
pemain dan pelatih pada akhir tahun. 
Kontrak yang meliputi pajak pemain dan kesepakatan nilai kontrak harus
sesuai dengan aturan persepakbolaan dan bisnis pertunjukan di China.

Jika pemain atau pelatih tidak memenuhi skema pajak CFA, maka akan dikenai
larangan melakukan aktivitas persepakbolaan di daratan Tiongkok selama 
satu hingga tiga tahun. Klub juga akan dicoret dari keikutsertaannya di
kompetisi CSL.

Dua tahun lalu, gelandang serang asal Brasil Oscar hengkang dari Chelsea
untuk bergabung dengan klub anggota CSL Shanghai SIPG dengan nilai kontrak 60
juta euro yang merupakan rekor di Asia.

Pada saat itu juga, klub rival SIPG, Shanghai Shenhua menandatangani
kontrak dengan penyerang asal Argentina Carlos Tevez dengan nilai yang sama
hingga mengguncang jagat persepakbolaan dunia.

Kedatangan dua pemain mahal tersebut bersamaan dengan puluhan bintang
Brazil lainnya, termasuk Paulinho, membuat klub-klub di China dilanda
kekhawatiran akan distorsi pasar transfer internasional yang membubung tinggi.

Kemudian CFA
menghentikan penghamburan uang itu dan memaksa klub untuk berkonsentrasi pada
pengembangan pemain muda. Dengan demikian maka bursa transfer yang mulai dibuka
pada 1 Januari 2019 kelihatannya tidak akan ada lagi klub yang
“jor-joran” belanja pemain.

“Kami belajar dari pengalaman liga-liga di negara maju dalam
merancang kebijakan untuk mengendalikann nilai kontrak, bonus, transfer, dan
persoalan lain,” kata Wakil Ketua CFA Li Yuyi seperti dikutip Kantor
Berita Xinhua pekan lalu.

Menurut dia, jika hanya mengandalkan investasi tanpa memikirkan dampak
jangka panjang, maka persepakbolaan di China tidak akan maju. 
“Perusahaan selaku pemilik klub harus bisa memahami kenapa
berinvestasi, apa yang mereka dapatkan dan apa pula kontribusi mereka kepada
masyarakat,” ujarnya.

Dibandingkan dengan cabang olahraga lain di China, sepak bola miskin
prestasi. Bahkan untuk tingkat Asia, tim nasional China masih tertinggal. 
Dalam tiga tahun terakhir, pemerintah China terus membangun fasilitas
sepak bola, termasuk ribuan unit sekolah sepak bola mulai usia dini hingga
junior.
(Ant)

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Pasar Modal Menguat, Allianz Siapkan Strategi Investasi Lebih Selektif Tahun Ini

Di tengah gejolak pasar global yang masih dibayangi ketidakpastian suku bunga, perang dagang, dan perlambatan ekonomi dunia, industri pengelolaan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img