Moneter.id – Kementerian Perindustrian (Kemenperin)
memproyeksikan kebutuhan tenaga kerja di sektor
industri akan naik hingga melampaui 8% sampai tahun 2035. Peningkatan ini
tersebar pada seluruh subsektor manufaktur, seperti industri makanan dan
minuman, logam, tekstil dan pakaian, serta otomotif.
“Tingginya kebutuhan tenaga kerja tersebut seiring
masuknya sejumlah investasi di Indonesia dan upaya pemerintah yang semakin
gencar menggenjot sektor industri untuk terus ekspansi, baik dalam rangka
memenuhi pasar domestik maupun ekspor,” kata Koordinator
Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Industri (BPSDMI) Kemenperin Mujiyono di
Depok, Jawa Barat, Selasa (30/4).
Kemenperin mencatat, investasi di sektor industri
manufaktur pada tahun 2014 sebesar Rp195,74 triliun, naik menjadi Rp226,18
triliun di tahun 2018. Serapan tenaga kerja di sektor industri juga ikut meningkat,
yakni dari 15,54 juta orang pada tahun 2015 menjadi 18 juta orang di tahun
2018.
Menurut Mujiyono, setiap tahun rata-rata sektor industri menyerap tenaga kerja sebanyak 672
ribu orang. “Kami telah memperhitungkan, itu kalau industri dipatok
tumbuh 5-6%,” ungkapnya.
Namun, kata Mujiyono, selain pemenuhan dari sisi
kuantitas, yang juga terpenting adalah penciptaan kualitas sumber daya manusia
(SDM) sesuai kebutuhan dunia industri saat ini.
“Apalagi, sekarang kita sudah memasuki era industri
4.0, di mana sektor industri dituntut untuk memanfaatkan teknologi canggih atau
digitalisasi sehingga bisa meningkatkan kapasitas dan kualitas produk secara
lebih efisien. Nah, guna mencapai
sasaran tersebut, diperlukan pula SDM kompeten. Jadi, SDM kompeten menjadi kunci
daya saing industri kita,” paparnya.
Oleh karena itu, mulai tahun ini pemerintah
memfokuskan pada pengembangan kualitas SDM sebagai agenda pembangunan nasional.
Langkah strategis yang tengah dijalankan, antara lain melakukan berbagai
kegiatan pendidikan dan pelatihan vokasi industri secara lebih masif.
Mujiyono menyampaikan, Indonesia punya potensi besar
dalam upaya membangun kualitas SDM seiring dengan momentum bonus demografi yang
sedang dinikmati sampai 20 tahun ke depan.
“Hingga 2030 nanti, Indonesia diprediksi mengalami
masa bonus demografi, yakni penduduk usia produktif mencapai 67,5%
dari total jumlah penduduk sebesar 297 juta jiwa,” jelasnya.
Penduduk usia produktif dinilai akan menjadi sumber
pertumbuhan ekonomi dan pengembangan inovasi. “Maka itu, kami terus berupaya
mencetak lebih banyak tenaga ahli dan menciptakan iklim industri yang kondusif
agar serapan dan produktivitas tenaga kerja terus meningkat,” imbuhnya.
Mujiyono menekankan, pemanfaatan teknologi
digital menjadi kunci penting dalam peningkatan produktivitas tenaga kerja.
“Sebanyak 75-375
juta orang tenaga kerja global akan beralih profesi. Oleh karenanya, ada lima
kompetensi penting yang kami kembangkan, yakni Coding
& Programming, Mekatronika, Data Analysis & Statistics, Artificial
Intelligence, dan Softskill Flexibility,” sebutnya.
Sementara itu, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto sempat menyebutkan bahwa Indonesia
membutuhkan 17 juta orang yang akan bekerja di bidang ekonomi digital hingga tahun 2030. “Yang mana 4% akan bekerja di sektor
manufaktur dan sisanya di jasa industri terkait,”
ujarnya.
Menperin mengungkapkan,
implementasi ekonomi digital akan membawa Indonesia naik kelas dengan target
menjadi negara berpendapatan level kelas menengah atas (upper middle income
country) pada tahun 2020. Untuk itu, diperlukan penerapan peta jalan Making
Indonesia 4.0 secara sinergi di antara pemangku kepentingan.
“Digitalisasi ekonomi
merupakan salah satu leap frog strategy ke level selanjutnya, yakni lulus dari middle
income trap,” tegasnya.




