Moneter.id – Perusahaan produsen batu bara, PT Adaro Energy Tbk (ADRO) membukukan
laba bersih sebesar US$405,99 juta hingga kuartal III/2019. Realisasi itu meningkat
dari tahun sebelumnya yakni sebesar US$312,70 juta.
“Dengan
begitu laba bersih per saham yang dapat diatribusikan sebesar US$0,012 naik 30%
dari posisi US$0,009,” tulis perseroan di Jakarta, Selasa (26/11).
Dijelaskan, untuk pendapatan
tercatat sebesar US$2,65 miliar atau turun 0,48% dari realisasi tahun lalu
US$2,66 miliar.
“Segmen usaha
pertambangan dan perdagangan batubara masih menjadi motor utama perseroan
dengan kontribusi sebesar US$2,43 miliar turun 1,23% dari realisasi tahun lalu
US$2,46. Realisasi periode ini menyumbang 91,69% total pendapatan,” tulisnya
lagi.
Sementara itu, segmen jasa
pertambangan menyumbang US$163 juta naik 9% dari realisasi tahun lalu US$149
juta. Lalu, segmen lainnya menyumbang US$53 juta naik 4% dari realisasi tahun
lalu US$51 juta.
Laba bruto
segmen penambangan tercatat turun 39% menjadi US$246 juta, segmen jasa tambang
naik 890% menjadi US$79 juta dan segmen lainnya naik 933% menjadi US$175 juta.
Kemudian, menurunnya
pendapatan ikut ditekan oleh beban pokok pendapatan yang naik menjadi US$1,85
miliar dari posisi US$1,78 miliar. Naiknya pos ini disebabkan oleh peningkatan
volume produksi maupun harga bahan bakar minyak (BBM).
Nisbah kupas
gabungan rata-rata perseroan pada periode sembilan bulan mencapai 4,76 kali,
atau sedikit lebih tinggi daripada panduan yang ditetapkan sebesar 4,56 kali
karena kenaikan volume pengupasan lapisan penutup pada kuartal III/2019.
Setelah dikurangi dengan
beban usaha, perseroan membukukan laba usaha sebesar US$630,92 juta. Namun
berkat keuntungan neto ventura bersama sebesar US$66,86 juta, laba sebelum
pajak periode ini tercatat US$663,53 juta atau lebih tinggi dibandingkan
periode yang sama tahun lalu US$642,61 juta.




