Moneter.id
–
PT Bank Tabungan Negara Tbk (BBTN) berencana mencari pendanan di
pasar modal dengan cara penerbitan sekuritisasi aset senilai Rp1 triliun
pada Oktober atau November 2020 ini.
“Kita berencana menerbitkan sekuritisasi asset sebesar
Rp 1 triliun pada bulan Oktober atau November 2020,” kata Direktur Utama BTN,
Pahala Nugraha Mansury di Jakarta, Kamis (8/10/2020).
Tapi, lanjut Pahala, penerbitan efek sekuritisasi
tersebut dinilai tidak terlalu dibutuhkan mengingat ketersedian dana perseroan
masih terjaga.
“Untuk pertama kalinya perseroan dalam 10 tahun ini
mencapai LDR dibawah 95% dan di akhir September 2020, LDR BTN mencapai 93,26%.
Kemudian pertumbuhan Dana Pihak Ketiga (DPK) hingga akhir September 2020
tercatat 19%. Sementara pertumbuhan dana murah mencapai 9%,” paparnya.
Jelas
Pahala, penyaluran kredit di sektor perumahan masih sangat besar dan utamanya
di perumahan kecil dan menengah. Besarnya potensi membuat BTN, salah satu bank
dengan spesialisasi pembiayaan propertiber usaha mengambil peluang. Apalagi
pemerintah menekankan, sektor perumahan bisa menciptakan lapangan kerja dan
sumber penciptaan UMKM baru.
“Kami bisnisnya di sektor perumahan. Dan
permintaan di sektor perumahan masih cukup baik, khususnya perumahan kecil dan
menengah,” kata Pahala
Belum
lama ini, BTN bisa menyalurkan pembiayaan KPR bersubsidi di atas Rp 1,3 triliun
dengan pertumbuhan di atas 4,5%.
Penyaluran KPR bersubsidi pada Juni lalu terlihat
membaik dibanding bulan Mei 2020. Aplikasi permohonan yang masuk tumbuh 75%
dengan realisasi di rentang Rp 1,1 triliun hingga 1,2 triliun pada Juli-Agustus
2020.
“Sektor-sektor yang khususnya adalah kebutuhan
dasar, seperti perumahan ini, mau enggak mau harus (tetap) jalan. Ini kita
upayakan garap terus,” sebut Pahala.
Penyaluran
kredit di sektor perumahan ini bahkan menjadi optimisme perseroan di tahun
2020. Hingga Desember mendatang, perseroan masih optimistis mampu menumbuhkan
kredit 2-3%. Apalagi, penyaluran KPR bersubsidi lebih cepat dibanding KPR
non-subsidi.
“Sampai Desember optimis kredit tumbuh 2-3%,
karena tren realisasinl kredit bulanan naik, pendanaan banyak sekali tahun ini.
90% portfolio BTN adalah sektor perumahan. Sebisa mungkin maksimalkan sektor
yang kita ngerti,” pungkasnya.
Pada
semester I/2020, perseroan membukukan laba bersih Rp 768 miliar. Pertumbuhan
laba ditopang oleh pendapatan bunga bersih yang disumbang oleh penyaluran
kredit dan pembiayaan.
Lalu, pendapatan bunga bersih BTN mencapai Rp 4,43
triliun. Hal ini disumbang oleh kenaikan penyaluran kredit dan pembiayaan yang
tumbuh 0,32% menjadi Rp 251,83 triliun.
KPR subsidi menempati posisi terbesar, yakni 45,11%
dari total portofolio kredit. Penyaluran KPR bersubsidi tumbuh 5,84 %secara
tahunan (yoy).




