Moneter.id – Indonesia sebagai negara
dengan penduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi tinggi untuk
mengembangkan sektor ekonomi syariah. Sektor ekonomi syariah meliputi banyak
industri seperti perbankan syariah, keuangan nonbank, pasar modal, rumah sakit
Islam, perhotelan, pariwisata, halal food, fashion dan masih banyak lagi.
Berdasarkan laporan The State of The Global Islamic
Economy 2020, Indonesia kini berada di posisi ke-4, meningkat dari posisi ke-5
di tahun 2019 dan tahun sebelumnya yang menempati posisi ke-10.
Indonesia juga disebutkan memimpin dalam hal jumlah
kesepakatan investasi yang diperoleh di seluruh sektor ekonomi Islam yang
tercakup dalam laporan tersebut. Tentunya hal tersebut menjadi kabar baik di
tengah perjuangan ekonomi melawan dampak Covid-19.
Semua industri mengalami berbagai macam tantangan
krisis yang luar biasa di tengah wabah pandemi, meskipun demikian berdasarkan
Laporan Ekonomi dan Keuangan Syariah 2019 yang diterbitkan oleh Bank Indonesia,
kinerja ekonomi syariah secara umum lebih tinggi dibandingkan PDB nasional
yakni dengan pertumbuhan mencapai 5,72%.
Bank Indonesia menyebutkan bahwa ekonomi syariah
menunjukkan kinerja yang berdaya tahan pada 2019 dengan potensi besar yang
untuk terus berkembang ke depan, termasuk dapat turut mendukung upaya
menghadapi dampak pandemi Covid-19.
Pangsa pasar syariah yang besar dan terus bertumbuh di
Indonesia adalah modal penting dalam pengembangan ekonomi dan keuangan syariah
nasional sebagai salah satu motor penggerak perekonomian.
Salah satu langkah pemerintah untuk memperkuat
kelembagaan keuangan syariah di dalam negeri adalah dengan melakukan merger
tiga bank umum syariah anak usaha BUMN yakni Bank Syariah Mandiri, BRI Syariah,
dan BNI Syariah, di mana BRI Syariah lah yang akan menjadi surviving
entity dalam penggabungan ini.
Menurut hasil survey Moody’s Investors
Service, total aset merger ketiga bank ini akan mencapai 2% dari total aset seluruh perbankan di
Indonesia. Merger yang diharapkan dapat selesai pada Februari 2021 ini akan
menciptakan bank terbesar nomor tujuh di Indonesia dari segi asset.
Wakil Direktur Utama PT Bank Mandiri Tbk, Hery Gunardi
diharapkan penetrasi aset Syariah dibandingkan aset perbankan umum yang saat
ini tergolong rendah yaitu di 8.5%-9% dapat terdorong naik seperti negara
dengan populasi muslim yang tinggi seperti Malaysia dimana penetrasi perbankan
syariah hampir 40%-50% dan Timur Tengah mencapai 80%-90%.
Kata Johanna Gani, CEO/Managing Partner Grant
Thornton Indonesia, penggabungan tiga bank syariah ini merupakan langkah
besar untuk memperkuat ekonomi syariah di Indonesia dari segi model, aset,
maupun produk dan layanan yang tentunya dapat memenuhi kebutuhan nasabah sesuai
dengan prinsip syariah.
Sistem perekonomian syariah dapat menjadi
alternatif dari sistem perbankan konvensional karena sistem ini mempunyai daya
resistansi yang cukup kuat terhadap krisis keuangan global seperti
sekarang. “Dengan penduduk muslim terbesar di dunia, Indonesia selanjutnya bisa
menjadi pelopor ekonomi syariah dunia,” katanya.
Sektor ekonomi syariah lainnya yang berkembang pesat
di Indonesia adalah Industri produk halal. Bagi pengusaha, sertifikasi halal
bisa dijadikan daya tarik pembeli agar lebih aman saat mengonsumsi produk.
Sedangkan bagi konsumen, label halal menolong mereka merasa aman dan tenang
dalam menjatuhkan pilihan untuk produk yang akan dikonsumsi.
Industri halal Indonesia diharapkan dapat
menjadi tuan rumah di negeri sendiri, dimana pada tahun 2018, “Indonesia sudah
membelanjakan sekitar US$ 214 Miliar untuk produk makanan dan minuman halal
yang menjadikan Indonesia sebagai konsumen terbesar dibanding negara muslim
lainnya dan menandakan besarnya potensi pasar produk halal dalam negeri,” jelas Wakil Presiden Ma’ruf
Amin.
Sebelumnya, Kepala Departemen Ekonomi dan Keuangan
Bank Syariah Indonesia, Anwar Bashori mengatakan, pada Juli 2020, ekspor neto produk halal
Indonesia mencapai 1,61 miliar dolar AS, tertinggi selama 2 tahun terakhir.
“Transaksi produk halal di e-commerce juga terus meningkat,
hal tersebut menandakan prospek bisnis syariah yang cukup menjanjikan di tengah
Covid-19 melalui pemanfaatan teknologi digital,” ujarnya.
Maraknya kosmetik halal, munculnya berbagai model
hijab, serta aplikasi smartphone yang dapat menyediakan fitur Al-Quran digital
menunjukkan eksistensi industri halal yang semakin dinikmati masyarakat.
Sementara, Ketua Indonesia Halal Lifestyle Center,
Sapta Nirwandar menyatakan banyak perusahaan besar yang bergerak di industri
kosmetik, makanan dan minuman, finance, fashion, serta travel yang
akhirnya menghadirkan produk halal karena terbukti menambah penjualan produk
yang dihasilkan.
“Ekonomi syariah sangat luas dan tidak
terbatas pada industri keuangan syariah saja, sektor riil atau bidang produksi
barang juga tercakup di dalamnya. Potensi perkembangan ekonomi syariah masih
sangat tinggi dan sangat didukung dengan tingkat kesadaran masyarakat muslim
Indonesia saat ini terhadap konsumsi barang dan jasa halal, di tengah resesi
yang melanda ekonomi syariah bisa menjadi sebuah kesempatan dan peluang bagi
pelaku usaha,” tutup
Johanna.




