Moneter.id
–
PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) membukukan rugi sebesar Rp201,42 miliar pada tahun
2020 atau memburuk dibandingkan tahun 2019 yang mencatatkan laba bersih sebesar
Rp33,15 miliar.
Imbasnya, emiten perkebunan ini membukukan rugi per
saham dasar Rp111, berbanding terbalik dibanding tahun 2019 yang mencatatkan
laba per saham senilai Rp18.
“Penjualan perseroan di tahun 2020 tumbuh 7,1% menjadi
Rp3,502 triliun dibanding tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp3,268 triliun,”
tulis perseroan diketerangan resminya, Minggu (18/4).
Namun, beban pokok penjualan naik 1,08% atau sebesar Rp2,618 triliun jika dibandingkan
pada tahun sebelumnya yang tercatat sebesar Rp2,59 triliun. Sehingga, laba
kotor naik 30,42% menjadi Rp883,91 miliar.
Sementara, beban provisi liabilitas kontigensi
tertulis Rp319,16 miliar, sedangkan tahun 2019 pos tersebut nihil. Apalagi
beban pajak penghasilan tercatat sebesar Rp292,2 miliar atau membengkak 119,5%
dibandingkan tahun 2019 yang tercatat sebesar Rp133,94 miliar.
Tahun ini seiring dengan prospek bisnis minyak sawit
akan cerah, perseroan memproyeksikan target produksi dapat tumbuh 13% hingga
18%.
Guna mencapai target pertumbuhan bisnis itu, SGRO
telah menyiapkan sejumlah strategi, di antaranya menerapkan protokol kesehatan
Covid-19 sangat ketat sehingga seluruh kegiatan operasional berjalan lancar.
Pihaknya juga akan melanjutkan pengembangan bisnis
jika kondisi ekonomi terus membaik serta strategi digitalisasi yang masih terus
bertahap dilakukan.
Sepanjang tahun 2021, manajemen Sampoerna Agro
menyediakan dana belanja modal (capital
expenditure/Capex) berkisar Rp400 hingga Rp600 miliar.




