Moneter
– Menteri Koperasi dan UKM, Teten Masduki
mendorong pencetakan 500.000 eksportir baru di Indonesia yang berdaya saing
global.
“Semua
pihak harus saling bahu-membahu
meningkatkan daya saing UKM untuk berorientasi menembus pasar global dengan sukses dan inovatif,” kata Teten, Selasa (27/4).
Kata Teten, pihaknya akan
memberikan pendampingan kepada UKM potensial ekspor dengan bekerjasama dengan
Sekolah Ekspor dalam menyusun
kurikulum dan modul pelatihan UKM Ekspor dan memberikan seri pelatihan bagi
aparatur pembina dan pelaku UKM ekspor.
“Selain itu dukungan pelatihan dan
sertifikasi pendamping UKM Ekspor dilaksanakan bekerjasama dengan Asosiasi
Profesi Ekspor Impor Indonesia (Indo-Eximpro) dan Asosiasi Eksportir dan
Produsen Hendicraf Indonesia (ASEPHI),” himbau Teten.
Diketahui, nilai
ekspor Indonesia tahun 2020 sebesar US$ 163,31 miliar, mengalami penurunan
sebesar 2,61% (yoy) dibandingkan tahun 2019. “Saya optimis neraca
perdagangan Indonesia akan surplus
US$ 21,74 miliar, dengan sektor yang bertumbuh yaitu pertanian dan industri
pengolahan sebagaimana data
BPS, Februari 2021 dan statistik
Kemendagri 2021,” ucapnya.
“UMKM
merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia,” paparnya.
Berdasarkan data
BPS, sebanyak
64 juta UMKM berkontribusi 60% dari total PDB Indonesia, serta menyerap 97%
tenaga kerja. Namun, kontribusi UMKM terhadap ekspor masih rendah sebesar
14,37%, masih tertinggal dengan negara – negara APEC yang bahkan dapat mencapai
35%.
Pihaknya mencatat sebanyak 86% pelaku ekspor
adalah Usaha Besar. Dan fakta menyebutkan bahwa UKM sulit menembus pasar
ekspor, karena berbagai kendala di antaranya minimnya pengetahuan tentang pasar
luar negeri, kualitas produk, kapasitas produksi, biaya sertifikasi yang tidak
murah, hingga kendala logistik.
“Tantangan UMKM saat pandemi ini adalah
kenaikan tarif pengiriman barang hingga 30%-40%, berkurangnya volume ekspor
impor sehingga terdapat pengurangan jadwal kapal dan penerbangan
internasional,” ungkap Teten.
Menurutnya, Kementerian
Koperasi dan UKM (KemenkopUKM) terus berkomitmen untuk mendongkrak
ekonomi masyarakat milenial dengan mendorong para enterpreuner salah satunya
dengan mewujudkan Desa Preneur di Kabupaten Karangasem Bali,
sebagai pilot project (percontohan)
dalam pembangunan perekonomian di daerah, khususnya dalam menggerakkan anak
muda untuk membangun desanya.
“Rasio
kewirausahaan di Indonesia memang masih tertinggal dibanding negara di
ASEAN seperti Malaysia, Singapura dan Thailand, apalagi dibandingkan
negara-negara maju. Karena itu jiwa entrepreneurship
terus digalakkan untuk meningkatkan rasio kewirausahaan khususnya di kalangan
anak muda,” tutup Teten.




