MONETER
–
PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGN) akan melakukan penawaran tender untuk
membeli kembali atau buyback obligasi
global dengan jumlah pokok agregat hingga US$400 juta atau Rp6,29 triliun.
“Aksi korporasi itu merupakan bagian dari global bond dengan total outstanding US$1,35 miliar, yang
memiliki bunga 5,125 persen, dan jatuh tempo pada 2024,” tulis keterangan resmi
perseroan, Selasa (29/11/2022).
Tulisnya, tender offer
bakal dilaksanakan hingga 23 Desember 2022. Para pemegang obligasi PGN yang
akan ikut serta pada tender offer dapat memberikan persetujuan awal sebelum 9
Desember 2022.
Pemegang obligasi akan mendapatkan uang tunai untuk
obligasi yang dibeli kembali perseroan dengan harga US$1.005,5 untuk setiap
pemegang obligasi senilai US$1.000. Harga tersebut lebih tinggi 0,55%.
Adapun, bagi para pemegang obligasi yang bakal
melaksanakan penjualan kembali obligasinya setelah tanggal 9 Desember bakal
dihargai sebesar US$999,5 per US$1.000 nilai pokok obligasi. Nilai tersebut lebih
rendah 0,05% dari nilai pokok obligasinya.
Sementara dari sisi kinerja, saat ini captive market niaga gas PGN telah
mencapai 92% ditopang oleh jaringan pipa sepanjang 11.500 kilometer dengan
kehandalan jaringan 100%. Jumlah pelanggan saat ini sebanyak 2.517 industri
& komersial, 1.914 pelanggan kecil, dan 765.756 rumah tangga.
Kemudian, dari sisi evironmental, social &
governance (ESG), manajemen PGN menjelaskan perseroan merupakan salah satu
emiten dengan kinerja ESG yang baik, di mana indikatornya adalah PGN masuk
dalam Index ESG Leader di Bursa Efek Indonesia dengan skor rating dari
Sustainalytic pada tahun ini yaitu 28,1.
PGN akan terus berupaya mencari peluang bisnis baru,
dengan menjajaki pasar global dalam rantai bisnis LNG. Berbagai MoU telah
disepakati dengan beberapa pelaku bisnis global, dan diharapkan akan meningkat
menjadi partnership dalam skema bisnis yang dapat memberikan value added bagi
para pihak di masa mendatang.
Pada kuartal III/2022, PGAS mencatat pertumbuhan
laba bersih tahun berjalan sebesar 8% menjadi US$ 311 juta atau setara
dengan Rp 4,88 triliun dibandingkan priode yang sama tahun.




