Jumat, Maret 13, 2026

Laba PAM Mineral Naik 230 Persen di Tahun 2022

Must Read

MONETER – PT
PAM Mineral Tbk (NICL) mencatatkan laba bersih senilai Rp150 miliar
pada 2022. Laba ini meningkat 230 persen year on year (yoy) dari Rp45,5 miliar
pada  2021.

 

Laba bersih tersebut ditopang oleh penjualan perseroan
yang mencapai Rp1,13 triliun pada 2022, atau meningkat 170 persen yoy dari
sebelumnya sebesar Rp419 miliar pada 
2021.

 

”Kami bersyukur apa yang telah kami persiapkan dan kami
usahakan di tahun 2022, perseroan mencapai kinerja yang memuaskan. Peningkatan
tersebut ditopang terutama oleh kenaikan volume penjualan dan harga nikel
dunia,” ujar Direktur Utama NICL Ruddy Tjanaka, Selasa (4/4/2023).

 

Perusahaan produsen nikel mencatat pertumbuhan total aset
sebesar 44 persen yoy menjadi Rp600 miliar pada 2022, dari sebelumnya Rp417
miliar pada 2021.

 

Ruddy menjelaskan pertumbuhan aset tersebut ditopang oleh
meningkatnya ekuitas sebesar 43 persen yoy menjadi Rp497 miliar pada 2022, dari
sebelumnya Rp347 miliar pada 2021.

 

“Dari sisi utang, perseroan tidak membukukan peningkatan
utang kepada pihak ketiga yang signifikan. Perseroan pun tidak memiliki utang bank.”
ujar Ruddy.

 

Pada  2023,
pihaknya mengungkapkan NICL akan fokus meningkatkan produksi nikel menjadi
sebesar 2,6 juta ton, dari sebelumnya sebesar 2,1 juta ton pada 2022, yang mana
perseroan sudah memperoleh persetujuan RKAB dari Kementerian ESDM untuk rencana
peningkatan produksi.

 

“Fokus kami akan menambah cadangan nikel, baik melalui
optimalisasi dari di wilayah IUP perseroan di Morowali maupun wilayah IUP anak
perusahaan di Konawe. Selain itu, kami juga akan mencari peluang IUP baru, baik
secara organic maupun an-organic untuk mendukung rencana perseroan di atas.”
ujar Ruddy.

 

Pihaknya berkomitmen untuk terus melakukan eksplorasi
berkelanjutan dan menjaga prinsip konservasi mineral melalui optimasi
pemanfaatan bijih nikel, yaitu memanfaatkan sumber daya mineral dan melakukan
diversifikasi produk.

 

“Diversifikasi produk dilakukan dengan membagi
berdasarkan persentase kadar nikel yang terkandung dalam bijih menjadi bijih
kadar rendah, bijih kadar menengah dan bijih kadar tinggi (Low Grade, Middle Grade,
dan High Grade),” ujar Ruddy.

 

Perseroan melakukan pemanfaatan bijih kadar rendah (low grade) dengan melakukan optimalisasi
cut off grade sehingga bijih kadar
rendah yang sebelumnya dianggap waste dapat diolah dan dipasarkan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Sustainability Bond Tahap II Bank bjb, Catat Permintaan Hingga Rp932,4 Miliar

PT Bank Pembangunan Daerah Jawa Barat dan Banten Tbk (bank bjb) menawarkan Sustainability Bond Tahap II dengan permintaan investor telah mencapai...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img