Indonesia Eximbank atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) kembali mengakselerasi penetrasi ekspor nasional dengan menyasar pasar Australia, khususnya Melbourne yang dinilai memiliki karakter pasar matang dan potensial bagi produk unggulan Tanah Air. Langkah ini ditempuh melalui partisipasi aktif dalam rangkaian promosi terpadu bersama Atase Perdagangan RI di Canberra dan KJRI Melbourne.
Dalam inisiatif tersebut, Indonesia Eximbank membawa 12 mitra binaan dari sektor makanan dan minuman, fesyen, hingga dekorasi rumah, seperti Sackai Bag, Kone Kone, Emma Little Things, hingga Viera Sutra Alam. Produk-produk ini dipamerkan bersama sekitar 30 brand Indonesia lainnya yang berasal dari berbagai program kurasi, termasuk Produk Pilihan Busan Kementerian Perdagangan dan Jakpreneur.
Antusiasme pasar Australia terhadap produk Indonesia terlihat dari tingginya minat pengunjung selama rangkaian kegiatan berlangsung. Ajang Indonesia Street Food Festival yang digelar pada 28–29 Maret 2026 di Victoria Market menjadi pembuka yang efektif dalam memperkenalkan kekayaan kuliner Nusantara kepada masyarakat lokal. Festival ini turut dihadiri Duta Besar Republik Indonesia untuk Australia, Siswo Pramono, sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan ekspor nasional.
Upaya promosi kemudian dilanjutkan melalui Indo Haus Market yang berlangsung pada 30 Maret hingga 2 April 2026 di Hawker Space. Konsep pop-up market yang diusung dinilai mampu menjadi sarana market testing sekaligus membuka peluang interaksi langsung antara pelaku usaha Indonesia dengan calon pembeli di Australia.
Konsul Jenderal RI di Melbourne, Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo, menilai karakter pasar Melbourne yang unik justru menjadi peluang bagi UMKM Indonesia untuk naik kelas. “Indo Haus Market merupakan bentuk kolaborasi yang dikembangkan di setiap titik penetrasi market di Australia. Melbourne ini memiliki keunikan market yang kita lihat sophisticated, sehingga cocok juga untuk UMKM Indonesia. Peluangnya besar sekali untuk UMKM dapat memanfaatkan fasilitasi oleh Pemerintah untuk mendukung UMKM potensial,” ujarnya.
Melalui kegiatan ini, potensi transaksi awal diperkirakan mencapai AUD 20.000. Nilai tersebut menjadi indikasi awal terbukanya peluang kerja sama bisnis yang lebih luas, seiring dengan pendampingan berkelanjutan yang diberikan kepada pelaku usaha.
Secara makro, peluang ekspor Indonesia ke Australia masih terbuka lebar. Berdasarkan analisis International Trade Centre, potensi ekspor Indonesia ke negara tersebut mencapai sekitar USD 5,1 miliar. Beberapa komoditas yang dinilai prospektif antara lain alas kaki berbahan karet dengan potensi hingga USD 78 juta serta furnitur kayu yang dapat menembus USD 54 juta.
Selain promosi dagang, Indonesia Eximbank juga memperkuat literasi ekspor melalui Workshop Strategic Trade Dialogue yang melibatkan pelaku usaha, diaspora, dan mahasiswa Indonesia di Australia. Forum ini menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai skema pembiayaan dan dukungan ekspor yang dapat dimanfaatkan pelaku usaha nasional.
Kepala Divisi Jasa Konsultasi Indonesia Eximbank, Maria Sidabutar, menegaskan bahwa sinergi dengan perwakilan perdagangan Indonesia di luar negeri akan terus diperkuat guna menjaga keberlanjutan ekspor. “Sebagai komitmen dalam mendorong produk Indonesia untuk bersaing di tingkat global secara berkelanjutan, Indonesia Eximbank akan terus memperkuat sinergi dengan seluruh mitra strategis khususnya perwakilan perdagangan RI di luar negeri. Salah satunya bersama KJRI Melbourne dan Atase Perdagangan RI di Canberra, dalam menghadirkan berbagai program yang mendorong kemajuan ekspor nasional,” ujarnya.
Langkah agresif ini menegaskan strategi Indonesia Eximbank dalam memperluas akses pasar global sekaligus mendorong UMKM naik kelas, memanfaatkan ceruk pasar internasional yang masih terbuka lebar, terutama di kawasan Australia.




