Rabu, September 2, 2026

Setelah Defisit, Neraca Dagang Indonesia Kembali Surplus US$120 Juta

Must Read

Neraca perdagangan Indonesia kembali ke zona surplus pada Juli 2026. Setelah sempat mengalami defisit US$450 juta pada Juni, neraca perdagangan berbalik mencatat surplus US$120 juta pada Juli.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), perbaikan tersebut terutama ditopang oleh penguatan surplus perdagangan nonmigas serta menyusutnya defisit perdagangan migas.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso mengatakan, perbaikan neraca perdagangan menjadi perkembangan positif bagi ketahanan eksternal ekonomi Indonesia.

“Bank Indonesia memandang surplus neraca perdagangan ini positif untuk menopang ketahanan eksternal perekonomian Indonesia lebih lanjut,” kata Ramdan dalam siaran pers Bank Indonesia, Selasa (1/9/2026).

Dengan capaian Juli, neraca perdagangan Indonesia sepanjang Januari-Juli 2026 masih membukukan surplus kumulatif sebesar US$3,70 miliar.

Kinerja perdagangan nonmigas menjadi penopang utama. Surplus neraca perdagangan nonmigas pada Juli mencapai US$3,10 miliar, sedikit meningkat dibandingkan surplus US$3,04 miliar pada Juni.

Penguatan tersebut sejalan dengan ekspor nonmigas yang meningkat menjadi US$25,43 miliar. Sejumlah komoditas menjadi motor ekspor, mulai dari produk sumber daya alam seperti bahan bakar mineral hingga produk manufaktur berupa besi dan baja serta mesin dan perlengkapan elektrik beserta bagiannya.

Dari sisi negara tujuan, Tiongkok, Amerika Serikat, dan India masih menjadi pasar utama ekspor nonmigas Indonesia. Ketiganya tetap memberikan kontribusi besar terhadap kinerja ekspor nasional pada Juli 2026.

Sementara itu, defisit perdagangan migas mulai memberikan tekanan yang lebih kecil terhadap neraca perdagangan nasional. Defisit sektor migas pada Juli tercatat US$2,98 miliar, turun dari US$3,49 miliar pada Juni.

Penyusutan defisit tersebut terutama dipengaruhi penurunan impor migas yang lebih besar dibandingkan penurunan ekspor migas.

Kombinasi penguatan surplus nonmigas dan berkurangnya defisit migas akhirnya mampu membawa neraca perdagangan nasional kembali ke zona positif. Meski surplus Juli relatif tipis, perkembangan ini menjadi sinyal bahwa kinerja eksternal Indonesia masih mampu bertahan di tengah dinamika perdagangan global.

BI pun memastikan koordinasi dengan pemerintah dan otoritas terkait akan terus diperkuat untuk menjaga ketahanan eksternal sekaligus menopang pertumbuhan ekonomi.

“Ke depan, Bank Indonesia terus memperkuat sinergi kebijakan dengan Pemerintah dan otoritas lain guna makin memperkuat ketahanan eksternal dan mendukung pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan,” ujar Ramdan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Harga Batubara Jadi Penyelamat, Laba PTBA Tembus Rp2,65 Triliun

PT Bukit Asam Tbk (PTBA) masih menghadapi tekanan dari sisi produksi pada semester I-2026. Namun, kenaikan harga jual batubara...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img