Ekonomi digital Indonesia memasuki fase pertumbuhan yang semakin matang. Jika sebelumnya pertumbuhan banyak ditopang oleh ekspansi platform berbasis konsumen dan peningkatan adopsi digital, perhatian kini mulai bergeser pada efisiensi operasional, profitabilitas, serta ketahanan infrastruktur digital, terutama di sektor bisnis antarbisnis atau B2B.
Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian memproyeksikan nilai ekonomi digital Indonesia mencapai hampir US$100 miliar pada 2025 dan terus tumbuh melampaui US$130 miliar pada 2026. Di sisi lain, Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) menargetkan kontribusi sektor digital terhadap perekonomian mencapai Rp155,57 triliun pada 2026.
Di tengah pertumbuhan tersebut, perhatian terhadap perusahaan skala menengah atau mid-sized enterprises dinilai semakin penting. Segmen ini berada di antara korporasi besar dan usaha mikro-kecil, dengan kapasitas yang relatif lebih fleksibel untuk melakukan ekspansi sekaligus memiliki sumber daya yang lebih memadai untuk melakukan modernisasi teknologi.
Riset Mordor Intelligence menunjukkan pasar layanan teknologi informasi (TI) di Indonesia diproyeksikan meningkat dari US$4,76 miliar pada 2025 menjadi US$5,41 miliar pada 2026. Sementara itu, belanja TIK pada segmen usaha kecil dan menengah diproyeksikan tumbuh dengan compound annual growth rate (CAGR) 15,67 persen selama periode 2026–2031.
Pertumbuhan bisnis yang cepat, bagaimanapun, turut menghadirkan tantangan dalam pengelolaan teknologi. Sebagian perusahaan menengah membangun infrastruktur TI secara bertahap sesuai kebutuhan operasional. Pola tersebut dapat menyebabkan sistem yang terfragmentasi, penggunaan terlalu banyak aplikasi atau tool sprawl, hingga meningkatkan risiko keamanan siber dan gangguan layanan.
Karena itu, kematangan operasional menjadi salah satu aspek yang perlu diperhatikan perusahaan ketika memperluas bisnis. Salah satu pendekatan yang berkembang adalah penggunaan arsitektur hybrid yang menggabungkan sistem legacy dengan layanan berbasis cloud.
Mordor Intelligence mencatat adopsi arsitektur hybrid menjadi salah satu model penerapan teknologi yang tumbuh cepat di pasar TIK Indonesia, dengan CAGR sebesar 15,44 persen. Pendekatan tersebut memungkinkan perusahaan memanfaatkan fleksibilitas cloud sembari mempertahankan sistem tertentu di lingkungan lokal sesuai kebutuhan perlindungan data dan kepatuhan regulasi.
Namun, pengelolaan infrastruktur hybrid dapat menjadi tantangan bagi perusahaan menengah yang memiliki sumber daya TI terbatas. Tim TI harus menangani berbagai kebutuhan, mulai dari keamanan perangkat karyawan, pemantauan jaringan di sejumlah lokasi, hingga tata kelola dan kepatuhan sistem.
Otomatisasi kemudian menjadi salah satu cara untuk meningkatkan kapasitas tim tanpa harus selalu menambah jumlah tenaga teknis. Sejumlah pekerjaan rutin seperti distribusi patch keamanan, inventarisasi aset, analisis log jaringan, hingga pengelolaan tiket help desk dapat dialihkan ke sistem otomatis.
Selain otomatisasi, perusahaan menengah juga mulai mempertimbangkan pendekatan unified IT management untuk menyederhanakan pengelolaan infrastruktur. Integrasi manajemen layanan TI atau ITSM, keamanan perangkat, dan pemantauan jaringan dalam satu dasbor dapat membantu mengurangi fragmentasi sistem sekaligus memberikan visibilitas yang lebih menyeluruh terhadap ekosistem digital perusahaan.
Technical Manager ManageEngine Indonesia, Hanief Bastian, mengatakan perusahaan menengah kini menghadapi tuntutan untuk bergerak cepat sekaligus menjaga kompleksitas infrastruktur tetap terkendali.
“Perusahaan menengah di Indonesia saat ini berada di persimpangan yang krusial. Mereka dituntut untuk bergerak cepat dalam menavigasi lanskap hybrid, namun sering kali tersandung oleh kompleksitas infrastruktur TI mereka sendiri,” ujar Hanief.
Menurutnya, perusahaan perlu mempertimbangkan pendekatan yang lebih terintegrasi dalam mengelola ekosistem TI, bukan sekadar menambah aplikasi baru.
“Kunci untuk memenangkan pasar saat ini bukan sekadar membeli dan menambahkan aplikasi perangkat lunak baru tanpa arah, melainkan menyatukan stabilitas dan kendali atas ekosistem TI dalam satu platform yang terotomatisasi,” katanya.




