Senin, Oktober 5, 2026

Bisnis Baru Unit Link Melejit 34,5%, Sinyal Minat Investasi Berbasis Asuransi Menguat

Must Read

Pasar produk asuransi yang dikaitkan dengan investasi (PAYDI) atau unit link kembali menunjukkan geliat. Data Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) mencatat premi bisnis baru unit link mencapai Rp19,78 triliun pada semester I 2026, tumbuh 34,5% secara tahunan.

Pertumbuhan bisnis baru tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan kenaikan total pendapatan premi unit link yang mencapai 10,3% menjadi Rp35,73 triliun. Perbedaan laju pertumbuhan ini menunjukkan adanya ruang ekspansi bagi perusahaan asuransi jiwa untuk kembali menggarap permintaan terhadap produk yang memadukan perlindungan dengan investasi.

Kenaikan tersebut juga menjadi sinyal bahwa unit link masih memiliki tempat dalam strategi keuangan masyarakat, terutama bagi konsumen yang menginginkan proteksi sekaligus peluang pertumbuhan dana dalam satu produk.

Namun, karakter investasi membuat unit link memiliki risiko yang berbeda dibandingkan produk asuransi tradisional. Nilai investasi mengikuti kinerja subdana sehingga dapat meningkat maupun menurun sesuai kondisi pasar.

Chief Product Officer Allianz Life Indonesia Cheang Khai Au mengatakan masyarakat perlu melihat unit link secara utuh dan tidak hanya berfokus pada potensi hasil investasi yang ditampilkan dalam ilustrasi.

“Investment link dapat memberikan manfaat perlindungan sekaligus komponen potensi nilai investasi dalam satu polis. Agar manfaat tersebut dapat digunakan sesuai kebutuhan, penting bagi calon pemegang polis untuk memahami bagaimana premi dialokasikan, bagaimana nilai investasi bekerja, serta biaya dan ketentuan yang berlaku dalam polis,” ujar Cheang Khai Au.

Dalam produk unit link, premi yang dibayarkan tidak seluruhnya memiliki fungsi yang sama. Berdasarkan mekanisme dan ketentuan polis, sebagian premi pada periode tertentu dapat digunakan untuk biaya akuisisi, sementara sebagian lainnya dialokasikan menjadi unit investasi. Pada produk lain, premi dapat langsung dialokasikan untuk membentuk unit investasi.

Unit investasi tersebut selanjutnya bergerak mengikuti harga unit subdana. Ketika aset yang mendasari subdana mencatat kinerja positif, nilai investasi berpotensi meningkat. Sebaliknya, pelemahan pasar dapat menekan nilai investasi.

Risiko tersebut menjadi semakin relevan karena nilai investasi juga dapat digunakan untuk membayar sejumlah biaya selama polis berjalan. Biaya asuransi, administrasi dan biaya lainnya sesuai ketentuan polis dapat memengaruhi nilai dana yang tersedia.

Dengan demikian, tingginya pertumbuhan bisnis baru unit link tidak serta-merta berarti produk tersebut cocok untuk seluruh konsumen. Kesesuaian produk tetap bergantung pada kebutuhan proteksi, tujuan keuangan, jangka waktu investasi serta kemampuan pemegang polis mempertahankan pembayaran premi dalam jangka panjang.

Dari sisi investasi, calon pemegang polis juga perlu memperhatikan karakteristik subdana yang tersedia. Setiap subdana memiliki aset dasar dan tingkat risiko yang berbeda sehingga pemilihannya harus disesuaikan dengan profil risiko serta tujuan keuangan.

Sejumlah fitur seperti top up, withdrawal dan switching juga dapat memberikan fleksibilitas kepada pemegang polis dalam mengelola investasinya. Kendati demikian, pemanfaatan fitur tersebut tetap mengikuti ketentuan masing-masing produk.

Khai Au menilai perbedaan kebutuhan finansial setiap individu membuat keputusan membeli unit link tidak bisa hanya didasarkan pada potensi imbal hasil.

“Setiap orang memiliki kebutuhan perlindungan, tujuan keuangan, dan kemampuan finansial yang berbeda. Karena itu, investment link sebaiknya dipahami berdasarkan keseluruhan manfaat dan mekanismenya, bukan hanya dari ilustrasi potensi nilai investasi,” tutupnya.

Di tengah pertumbuhan premi bisnis baru yang mencapai 34,5%, tantangan industri asuransi jiwa bukan hanya mempertahankan momentum penjualan, tetapi juga memastikan konsumen memahami karakteristik PAYDI. Pemahaman terhadap biaya, risiko investasi, manfaat proteksi dan ketentuan polis menjadi kunci agar pertumbuhan unit link dapat berlangsung secara berkelanjutan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Ekspor Pala Merosot 18,2%, LPEI Kejar Pasar Tiongkok

Dominasi Indonesia sebagai pemasok pala dunia belum mampu menghindarkan komoditas rempah ini dari tekanan permintaan global. Sepanjang Januari–Mei 2026,...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img