Rabu, Oktober 7, 2026

Prancis dan Indonesia Pererat Kerja Sama Ilmiah melalui Penelitian Bersama di Bidang Ilmu Kelautan dan Ilmu Bumi

Must Read

Prancis dan Indonesia tengah mewujudkan komitmen terbaru untuk memperkuat kerja sama ilmiah menjadi kemitraan penelitian yang konkret, melalui acara Joint Workshop on Marine and Earth Sciences atau Lokakarya Bersama bidang Ilmu Kelautan dan Ilmu Bumi selama empat hari, diselenggarakan di Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Surabaya pada tanggal 5 hingga 8 Oktober 2026.

Diprakarsai oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dan Pusat Nasional Penelitian Ilmiah Prancis (CNRS), serta diselenggarakan bersama oleh Lembaga Nasional Penelitian Prancis untuk Pembangunan Berkelanjutan (IRD), perusahaan Prancis spesialisasi desain pertahanan angkatan laut Naval Group, dan ITS, serta dengan dukungan dari Kedutaan Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN – Institut français d’Indonésie (IFI), program ini menampilkan proyek-proyek penelitian bersama dan pertukaran ilmiah yang mencakup ilmu kelautan, geologi, vulkanologi, polusi atmosfer, dan pemantauan bencana alam. Acara ini merupakan bagian dari Tahun Inovasi Prancis-Indonesia 2026.

”Lokakarya bersama ini mencerminkan penguatan kemitraan antara Prancis dan Indonesia di bidang pendidikan, penelitian, dan mobilitas. Kegiatan ini sejalan dengan tujuan yang ditetapkan oleh Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto dalam Deklarasi Paris pada tanggal 28 Mei 2026. Penyelenggaraan kegiatan ini sangat penting karena melibatkan banyak mitra, baik dari Prancis maupun Indonesia, dari sektor publik dan swasta. Mereka bekerja sama dalam proyek-proyek konkret yang saling menguntungkan dan memiliki nilai jangka panjang,” kata Bapak Fabien Penone, Duta Besar Prancis untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN.

Inisiatif ini dibangun di atas serangkaian perjanjian yang secara bertahap telah memperkuat landasan kelembagaan kemitraan ilmiah Prancis-Indonesia.

Hal ini merupakan kelanjutan dari Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Penelitian dan Inovasi antara BRIN dan CNRS, ditandatangani pada Juli 2024, yang menetapkan kerangka kerja sama ilmiah antara kedua lembaga tersebut. Lingkupnya mencakup kegiatan penelitian bersama, mobilitas ilmiah, dukungan beasiswa, serta penyelenggaraan bersama konferensi, seminar, dan lokakarya.

Selain itu, juga mengacu pada Letter of Intent (LoI) yang ditandatangani oleh BRIN, CNRS, IRD, dan Naval Group pada 28 Mei 2025 selama kunjungan kenegaraan Presiden Emmanuel Macron ke Indonesia. LoI tersebut mengikat keempat mitra untuk mengembangkan peta jalan bersama di bidang sains, teknologi, dan inovasi di sektor maritim. Lokakarya pekan ini merupakan langkah konkret pertama ke arah tersebut karena mempertemukan puluhan peneliti Prancis dan Indonesia dalam proyek-proyek bersama dan sesi-sesi ilmiah.

Kerja sama ilmiah ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat kemitraan maritim Prancis-Indonesia. Dialog Maritim Bilateral Prancis-Indonesia Ketiga, yang diselenggarakan di Bali pada 27–28 Oktober 2025, mempertemukan perwakilan pemerintah, diplomat, dan ilmuwan untuk memajukan kerja sama di bidang tata kelola laut, keberlanjutan maritim, dan kerja sama ilmiah.

Momentum ini semakin diperkuat melalui Strategi Bersama di Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Mobilitas (Deklarasi Paris), yang disepakati oleh Presiden Emmanuel Macron dan Presiden Prabowo Subianto pada 28 Mei 2026, selama kunjungan kenegaraan Presiden Republik Indonesia ke Prancis.

Selama pertemuan Joint Working Group ke-14 tentang Pendidikan Tinggi, Penelitian, Inovasi, dan Kewirausahaan yang diselenggarakan di kota Angers, Prancis, pada 9 Juli 2026, Menteri Pendidikan Tinggi Prancis dan Indonesia mengadopsi peta jalan untuk kerja sama ilmiah bilateral.

Lokakarya di Surabaya menjadi contoh konkret dari komitmen yang semakin kuat ini: perjanjian kelembagaan dan dialog bilateral kini diwujudkan dalam bentuk pertukaran peneliti, proyek bersama, serta kolaborasi seputar infrastruktur dan keahlian ilmiah.

“Momentum yang tercipta berkat kunjungan dan pernyataan tingkat tinggi baru-baru ini memberikan dorongan baru bagi kerja sama ilmiah Prancis-Indonesia di bidang kelautan. Berbekal 50 tahun kerja sama ilmiah dengan Indonesia, IRD berkomitmen untuk mewujudkan ambisi bersama ini menjadi kemitraan penelitian inovatif yang memanfaatkan keahlian yang saling melengkapi guna memahami lingkungan laut yang berubah dengan cepat, menempatkan masyarakat sebagai pusat solusi, serta mendukung pengelolaan sumber daya laut yang berkelanjutan,” ungkap Adèle Martial-Gros, Perwakilan IRD di Indonesia dan Timor-Leste.

Dari perjanjian hingga proyek penelitian konkret

Sejumlah 19 proyek penelitian kolaboratif Prancis-Indonesia dipresentasikan pada tanggal 5 Oktober, yang melibatkan peneliti dari BRIN, ITS, Universitas Gadjah Mada (UGM), Institut Teknologi Bandung (ITB), dan lembaga-lembaga Indonesia lainnya, bersama mitra Prancis termasuk CNRS, IRD, IMT Atlantique, dan Université Polytechnique Hauts-de-France (UPHF).

Proyek-proyek yang diusulkan mencakup berbagai tantangan ilmiah bersama, mulai dari keanekaragaman hayati laut dan geologi hingga transportasi berkelanjutan, polusi udara, perencanaan tata ruang, pemantauan gempa bumi dan tsunami, serta dinamika laut. Di antaranya terdapat kolaborasi antara universitas Prancis dan Indonesia di bidang teknologi maritim dan transportasi, termasuk dampak penuaan permukaan dan biofouling terhadap kinerja hidrodinamik kapal dan kapal selam, serta penelitian yang dilakukan oleh IRD dan CNRS bersama BRIN mengenai polusi atmosfer, ilmu kelautan, dan bencana alam.

“Melalui lokakarya bersama ini, kami berharap kolaborasi penelitian antara Indonesia dan Prancis di bidang ilmu kelautan dan ilmu bumi akan ditindaklanjuti dengan kegiatan penelitian bersama yang konkret. BRIN siap mendukung kolaborasi penelitian yang muncul dari lokakarya empat hari ini,” ujar Agus Haryono, Wakil Ketua Bidang Fasilitasi Penelitian dan Inovasi, BRIN.

Sesi ilmiah berlanjut pada tanggal 6 dan 7 Oktober dengan sesi khusus mengenai ilmu geologi dan vulkanologi, polusi atmosfer, oseanologi, serta ilmu laut dalam. Presentasi mencakup perkiraan real-time aliran magma berdasarkan data GNSS untuk mengantisipasi letusan, pemantauan akustik terdistribusi untuk memantau bahaya geologi, serta proses magma di Gunung Merapi.

Sesi polusi atmosfer membahas pemodelan kualitas udara untuk Asia Tenggara serta emisi dari kebakaran hutan dan biomassa. Sesi oseanologi mencakup magnetik laut untuk mempelajari zona subduksi Indonesia dan potensi mineral dasar laut, serta jaringan pelampung Argo untuk pemantauan laut.

“Sejalan dengan Strategi Bersama di Bidang Pendidikan, Penelitian, dan Mobilitas, lokakarya ini menonjolkan keunggulan kedua komunitas ilmiah kita dan membantu menentukan bidang-bidang kerja sama di masa depan. CNRS, bersama dengan BRIN dan mitra-mitra Indonesia lainnya, akan terus menyediakan sarana dan ruang untuk memfasilitasi pertukaran antara para peneliti kita, serta memfasilitasi mereka untuk melakukan penelitian tingkat tinggi di bidang-bidang yang menjadi kepentingan bersama. Kami yakin bahwa acara ini menandai awal dari kolaborasi jangka panjang di bidang ilmu kelautan dan ilmu bumi,” tegas Profesor Dominique Baillargeat, Direktur Kantor Perwakilan CNRS untuk Asia Tenggara.

Selain sesi-sesi ilmiah, lokakarya ini juga membuka peluang untuk menghubungkan penelitian dengan ekosistem maritim dan teknologi Indonesia. Para peserta dijadwalkan mengunjungi galangan kapal PT PAL pada 6 Oktober, dilanjutkan dengan kunjungan ke Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta pertemuan dengan tim BMKG dan perusahaan Prancis CLS pada 8 Oktober. Program ini ditutup dengan kunjungan ke laboratorium hidrodinamika BRIN KST Surabaya dan Technopark Ilmu Kelautan ITS, yang memberikan kesempatan bagi para peneliti untuk menjelajahi infrastruktur ilmiah dan potensi kolaborasi di masa depan.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

DJP Perketat Tata Kelola Meterai Digital, Penyedia Printer MTD Wajib Penuhi Standar

Direktorat Jenderal Pajak (DJP) memperketat tata kelola pembayaran Bea Meterai berbasis digital dengan menerbitkan Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img