Kamis, Oktober 8, 2026

Kaspersky Luncurkan AI Protect, Bidik Risiko Keamanan Infrastruktur AI di Asia Pasifik

Must Read

Percepatan adopsi artificial intelligence (AI) di lingkungan perusahaan Asia Pasifik mulai diikuti peningkatan risiko keamanan siber. Melihat celah tersebut, Kaspersky resmi meluncurkan Kaspersky AI Protect (KAIP), solusi yang dirancang untuk mengamankan infrastruktur AI perusahaan dari ancaman generasi baru.

Kaspersky menilai ancaman terhadap infrastruktur AI kini tidak hanya berasal dari serangan siber konvensional, tetapi juga mencakup file Large Language Model (LLM) yang telah disusupi, agen AI berbahaya, hingga serangan prompt injection dan model poisoning.

Risiko tersebut semakin besar seiring posisi Asia Pasifik yang menjadi salah satu kawasan dengan tingkat serangan siber tertinggi di dunia. Kaspersky mencatat kawasan ini mencakup lebih dari 60% serangan siber yang tercatat secara global. Sektor manufaktur dan layanan teknologi informasi menjadi sasaran utama, sementara usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) juga menghadapi risiko tinggi karena kemampuan pertahanan siber yang masih terbatas.

Di sisi lain, adopsi AI di lingkungan perusahaan terus meningkat. Kondisi tersebut membuka ruang baru bagi pelaku kejahatan siber untuk mengeksploitasi teknologi AI. Secara global, Kaspersky mencatat lebih dari 92.000 serangan berbahaya yang menyamar sebagai layanan AI hanya dalam paruh pertama 2026.

Managing Director Kaspersky untuk Asia Pasifik Adrian Hia mengatakan perusahaan di kawasan tersebut kini berada dalam kondisi yang membutuhkan keseimbangan antara kecepatan adopsi AI dan pengendalian risiko keamanan.

“Kawasan Asia Pasifik berada pada titik krusial. Perusahaan mempercepat adopsi AI dan memprioritaskan kecepatan dalam meraih nilai bisnis, namun banyak yang meremehkan ancaman nyata yang menyertainya, termasuk risiko rantai pasok AI, penyusupan pada model (model poisoning), agen berbahaya, dan serangan prompt injection,” ujar Hia.

Menurut dia, anggapan bahwa penggunaan LLM secara internal otomatis membuat sistem lebih aman juga menjadi persoalan. Pasalnya, sumber ancaman dapat berasal dari komponen eksternal yang masuk ke dalam infrastruktur AI perusahaan.

“Banyak organisasi masih memiliki anggapan keliru bahwa menyimpan LLM secara internal menjamin keamanan. Namun, pandangan tersebut mengabaikan fakta bahwa kode berbahaya dapat disusupkan melalui bobot model (model weights), plugin AI, dan skrip yang berasal dari luar organisasi,” tambah Hia.

KAIP dikembangkan untuk menjawab celah keamanan tersebut dengan kemampuan mendeteksi ancaman berbasis AI sekaligus ancaman siber tradisional. Solusi ini dapat diintegrasikan dengan berbagai aplikasi serta memberikan perlindungan pada portal dan aplikasi web, server proxy, penyimpanan terhubung jaringan atau NAS, hingga gateway email.

Dari sisi penerapan, KAIP dapat dikelola melalui HTTP dan ICAP, baik sebagai layanan mandiri, klaster yang dapat diskalakan maupun kontainer Docker. Solusi tersebut juga tersedia untuk lingkungan Linux dan dapat diterapkan pada Docker Swarm, Kubernetes, AWS EKS, serta lingkungan cloud serupa.

Kaspersky melihat kebutuhan terhadap keamanan khusus AI semakin mendesak karena arsitektur AI perusahaan saat ini semakin kompleks. Perusahaan tidak lagi hanya mengandalkan LLM on-premise, tetapi juga mulai menggunakan basis pengetahuan Retrieval-Augmented Generation (RAG) dan platform orkestrasi agen AI.

Perubahan arsitektur tersebut membuat perlindungan keamanan tradisional di titik akhir dan perimeter jaringan tidak lagi cukup. Salah satu celah yang menjadi perhatian adalah belum optimalnya kemampuan sistem keamanan konvensional dalam mendeteksi file bobot LLM maupun file keterampilan agen AI yang berpotensi menjadi pintu masuk serangan.

Melalui KAIP, Kaspersky memungkinkan perusahaan memeriksa file LLM dan agen AI untuk mendeteksi fungsi berbahaya, sembari tetap mempertahankan perlindungan terhadap ancaman siber tradisional.

“Keamanan seharusnya tidak menjadi penghambat kemajuan AI, melainkan sebagai faktor pendukung yang membuka potensi nilai AI yang dapat dikembangkan secara luas. Kami berkomitmen untuk mengintegrasikan keamanan ke dalam setiap tahapan siklus hidup AI, mulai dari impor model hingga eksekusi agen,” kata Hia.

Menurut Kaspersky, pendekatan tersebut diperlukan agar perusahaan dapat memasukkan keamanan AI ke dalam alur kerja operasional keamanan yang sudah berjalan. Dengan demikian, perusahaan dapat tetap mengejar manfaat bisnis dari AI tanpa mengabaikan risiko yang muncul dari semakin luasnya penggunaan teknologi tersebut.

General Manager untuk wilayah ASEAN dan Asia Emerging Countries (AEC) di Kaspersky Simon Tung menambahkan bahwa visibilitas menjadi faktor penting dalam mengamankan infrastruktur AI perusahaan.

“Pada akhirnya, Anda tidak dapat mengamankan apa yang tidak dapat Anda lihat. KAIP memberikan visibilitas kepada perusahaan terhadap bagian-bagian infrastruktur AI mereka yang selama ini tidak terlindungi,” ujar Tung.

KAIP juga menjadi bagian dari ekosistem Kaspersky Technology Alliance sehingga dapat diintegrasikan ke dalam penawaran keamanan perangkat keras dan perangkat lunak pihak ketiga. Kaspersky menyediakan dukungan teknis bagi mitra yang ingin mengintegrasikan solusi tersebut ke dalam produk dan layanan mereka.

Peluncuran KAIP di Asia Pasifik menunjukkan bahwa ekspansi penggunaan AI di sektor korporasi mulai menciptakan kebutuhan baru di industri keamanan siber. Bagi perusahaan, tantangannya bukan lagi sekadar mengadopsi AI dengan cepat, tetapi memastikan seluruh rantai teknologi, mulai dari model, plugin, agen, hingga infrastruktur pendukungnya, memiliki lapisan perlindungan yang memadai.

- Advertisement -spot_img
- Advertisement -spot_img
Latest News

Agung Podomoro Perluas Fasilitas Club House ke Segmen Hunian Terjangkau

Persaingan bisnis properti semakin bergeser dari sekadar menawarkan lokasi dan harga menuju pengembangan ekosistem hunian yang mampu memenuhi kebutuhan...
- Advertisement -spot_img

More Articles Like This

- Advertisement -spot_img