Pasar hunian sewa di kota besar mulai menghadapi perubahan perilaku konsumen. Gen Z dan Milenial semakin terbuka terhadap konsep co-living sebagai alternatif di tengah mahalnya harga rumah, tetapi keputusan mereka tetap sangat dipengaruhi kemampuan mengelola biaya hidup.
Riset Cove bersama Jakpat menunjukkan sebanyak 69% Gen Z dan Milenial di Jabodetabek, Bandung, dan Surabaya menjadikan harga sewa yang sesuai anggaran sebagai faktor utama ketika memilih co-living.
Angka tersebut memperlihatkan bahwa generasi muda semakin rasional dalam menentukan hunian. Kendati co-living menawarkan fleksibilitas dan fasilitas, kemampuan membayar tetap menjadi batas utama sebelum faktor kenyamanan dipertimbangkan.
Country Director of Growth Cove Dian Paskalis mengatakan kecermatan menghitung biaya tidak hanya terjadi pada kelompok dengan anggaran terbatas.
“Gen Z dan Milenial hari ini sangat cermat dalam berhitung, tapi memiliki kompromi yang rendah terkait kenyamanan, termasuk dalam urusan pemilihan hunian sewa,” kata Dian.
Menurut dia, responden dengan anggaran hidup lebih dari Rp7,5 juta per bulan pun tetap menjadikan kesesuaian harga sebagai pertimbangan terbesar.
“Riset terbaru kami menunjukkan bahwa di kalangan responden dengan anggaran hidup menengah ke atas, yaitu di atas Rp7,5 juta per bulan, harga sewa yang sesuai anggaran tetap menjadi pertimbangan terbesar ketika mencari co-living, sama seperti kelompok lain dengan anggaran hidup di bawah angka tersebut,” ujarnya.
Setelah harga, lokasi menjadi faktor kedua yang paling menentukan. Sebanyak 58% responden mempertimbangkan lokasi strategis ketika memilih co-living. Faktor ini lebih dominan di kalangan Milenial dengan tingkat pertimbangan 64%, sedangkan Gen Z mencapai 51%.
Bagi generasi yang hidup dan bekerja di kawasan perkotaan, lokasi strategis memiliki konsekuensi langsung terhadap pengeluaran. Hunian yang dekat dengan pusat pekerjaan, pendidikan, maupun aktivitas sehari-hari dapat menekan biaya transportasi sekaligus menghemat waktu perjalanan.
Namun, konsumen muda tidak sekadar mencari harga sewa paling rendah. Sebanyak 55% responden justru mempertimbangkan hunian yang telah memasukkan biaya listrik, air, dan internet dalam harga sewa.
Kondisi tersebut memperlihatkan semakin pentingnya transparansi biaya dalam bisnis hunian sewa. Dengan biaya utilitas sudah masuk dalam harga, penyewa dapat memperkirakan kebutuhan pengeluaran bulanan secara lebih pasti dan menghindari biaya tambahan yang sulit diprediksi.
Di sisi lain, standar kenyamanan juga tetap dipertahankan. Keamanan, kelengkapan fasilitas, dan kenyamanan kamar menjadi pertimbangan berikutnya setelah harga, lokasi, serta biaya utilitas.
Dian mengatakan kondisi pasar hunian Indonesia membuat harga dan lokasi menjadi dua faktor yang sulit dipisahkan.
“Lokasi dan besaran harga sewa maupun jual merupakan hal yang amat berkaitan di pasar hunian Indonesia. Semakin strategis suatu hunian, maka akan semakin tinggi biayanya,” jelasnya.
Menurut dia, biaya tersebut juga cenderung meningkat seiring dengan kelengkapan fasilitas yang ditawarkan, seperti perabot kamar, keamanan 24 jam, hingga area komunal.
“Oleh karena itu, co-living hadir sebagai solusi bagi Gen Z dan Milenial: hunian di pusat perkotaan yang berfasilitas lengkap, dengan skema kontrak yang lebih fleksibel mulai dari hitungan mingguan, sehingga memungkinkan mereka tinggal di hunian ideal tanpa harus banyak berkompromi,” kata Dian.
Fenomena tersebut menunjukkan peluang pertumbuhan bisnis co-living tidak hanya bertumpu pada tingginya harga rumah. Model ini juga menjawab kebutuhan konsumen yang menginginkan fleksibilitas, biaya yang lebih mudah diprediksi, serta akses ke lokasi strategis tanpa harus membeli properti.
Dengan demikian, persaingan bisnis hunian sewa ke depan berpotensi bergeser dari sekadar menawarkan kamar dengan harga murah menjadi kemampuan menyediakan total biaya tinggal yang efisien. Bagi Gen Z dan Milenial, harga sewa memang menjadi pintu masuk, tetapi nilai yang diperoleh dari setiap rupiah pengeluaran akan menentukan pilihan akhir.




