Moneter.co.id – Perbankan berupaya menaikkan pendapatan berbasis komisi (fee based income) untuk menjaga momentum pertumbuhan laba sebagai kompensasi dari ancaman penurunan suku bunga. Misalnya, PT Bank Tabungan Negara Tbk. (BTN) pada tahun ini menargetkan pendapatan komisi tumbuh sampai dua digit.
Direktur Keuangan dan Treasuri BTN Iman Nugroho Soeko mengatakan, pendapatan di luar bunga mayoritas disumbang oleh komisi biaya administrasi. “Tahun lalu pertumbuhannya sekitar 13%. Tahun ini target kami lebih besar, harusnya di atas 25% sampai 30%,” katanya.
Iman optimistis target tersebut dapat terealisasi seiring dengan agresivitas ekspansi bank spesialis kredit pemilikan rumah tersebut pada tahun ini.
BTN menetapkan peta jalan (pilot project) pengembangan usaha sampai 2020 dengan mengarahkan layanan pada digital banking.
Dalam dua tahun ke depan, BTN akan menambah sekitar 60 smart branch di berbagai daerah seperti Semarang, Jakarta, Surabaya, Makassar, dan Medan. Investasi yang disiapkan untuk pengembangan tersebut mencapai Rp53 miliar.
Penerapan layanan perbankan digital tersebut diharapkan mampu mengakselerasi kinerja bisnis perseroan, termasuk memacu pendapatan di luar bunga.
Sepanjang tahun lalu, BTN membukukan fee based income sebesar Rp655,6 miliar, naik 10% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp595,9 miliar.
Selain itu, pendapatan operasional selain bunga BTN mencakup peningkatan nilai wajar aset keuangan surat berharga sebesar Rp9,95 miliar, keuntungan penjualan aset keuangan surat berharga Rp272,5 miliar, pemulihan atas cadangan kerugian penurunan nilai (CKPN) sebesar Rp98 juta dan pendapatan lainnya Rp346,6 miliar.
“Digital banking kami sudah mulai bagus pada tahun ini. Kalau itu berhasil dipasarkan dengan sangat baik, ya kami bisa harapkan dari situ,” katanya.
Adapun, seiring dengan target pertumbuhan kredit yang dipatok 20%, pendapatan bunga bersih BTN pada tahun ini juga diharapkan dapat tumbuh sampai 20% dari realisasi tahun lalu yang berjumlah Rp8,25 triliun.
(TOP)




