Moneter.co.id – PT XL Axiata
Tbk (EXCL) berencana membiayai kembali atau refinancing utangnya senilai Rp3,5 triliun pada tahun 2018. Perseroan tengah mempertimbangkan
instrumen keuangan yang akan digunakan untuk membiayai kembali tersebut,
termasuk dengan pinjaman perbankan.
Direktur Keuangan XL Axiata, Muhamed
Adlan mengatakan, pihaknya akan menghadapi utang jatuh tempo sekitar Rp3,5
triliun tahun depan. Utang jatuh tempo tersebut terdiri atas utang sukuk dan
utang bank.
“Untuk refinancing,
kita masih memiliki sukuk yang belum di-draw down dan
masih berlaku akhir hingga akhir November 2017,” jelas Adlan di Jakarta,
Kamis, (02/11).
Adlan menambahkan, saat ini
penurunan Jakarta Interbank Offered Rate (JIBOR) lumayan signifikan. Oleh sebab
itu, XL mempertimbangkan menggunakan pinjaman perbankan untuk membiayai kembali
utangnya.
Berdasarkan laporan keuangan XL Axiata
kuartal III-2017, perseroan memiliki pinjaman jangka panjang yang akan jatuh
tempo dalam satu tahun sebesar Rp2,32 triliun. Perseroan juga memiliki sukuk
ijarah yang akan segera jatuh tempo sebesar Rp1,03 triliun.
“Perseroan belum
memutuskan akan menggunakan fasilitas sukuk yang masih tersedia atau tidak.
Namun, jika akhirnya perseroan tidak mengeksekusi sukuk tersebut, XL akan
mempertimbangkan menerbitan penawaran umum berkelanjutan (PUB) obligasi
baru,” kata Adlan.
Terkait kinerja keuangan, lanjut Adlan, hingga kuartal III-2017 masih sejalan dengan target
perseroan tahun ini. XL Axiata menargetkan pertumbuhan pendapatan tahun ini
sejalan dengan pertumbuhan industri.
“Pertumbuhan pendapatan kita
sudah 5 persen,” jelasnya. Dia memperkirakan pertumbuhan industri
telkomunikasi tahun ini berada di kisaran 7-8 persen.
Sepanjang kuartal III/2017, XL
Axiata memperoleh pendapatan sebesar Rp16,9 triliun, meningkat sebesar 5 persen
dari perolehan periode sama tahun lalu sebesar Rp16 triliun. Kontribusi
terbesar pendapatan perseroan tahun ini berasal dari penjualan data, yakni
mencapai Rp9,3 triliun atau 71 persen dari total pendapatan.
Selanjutnya pendapatan perseroan dari
non-data sebesar Rp5,7 triliun, jasa interkoneksi sebesar Rp1 triliun, sewa
menara Rp292,7 miliar dan sirkit langganan Rp224,3 miliar.
Perseroan memperoleh laba bersih
hingga kuartal III-2017 sebesar Rp238 miliar, meningkat dari realisasi periode
sama tahun lalu sebesar Rp159,7 miliar.
“Penjualan data di masa
mendatang akan sangat mendominasi pendapatan perseroan. Dia memperkirakan dalam
dua hingga tiga tahun ke depan, pendapatan perseroan dari sektor data akan
mencapai 90 persen,” ujarnya.
Hal itu bakal terjadi karena
pertumbuhan pengguna data di Indonesia masih eksponensial. Di sisi lain,
pengguna jasa pesan pendek (short message service/ SMS) dan voice akan
terus turun. “Jadi kontribusi pendapatan data
di masa mendatang akan signifikan,” ujar dia.
Manajemen XL Axiata memandang industri
telekomunikasi tahun depan akan sulit. Salah satu faktornya adalah akibat
regulasi baru tentang registrasi pengguna nomor.
Namun, ia masih tidak mengetahui impact regulasi tersebut terhadap industri telekomunikasi. Oleh sebab itu dalam tiga
bulan awal 2018, perseroan harus mengetahui dampak regulasi itu. “Sulit memprediksi growth pendapatan
tahun depan,” tegasnya. (HAP)




